Saya baru saja menjejaki sebuah kampus, ceritanya menjadi mahasiswa baru. Betapa senangnya mendapati ruang kuliah dan teman-teman yang baru. Sebuah kompleks pendidikan yang dipenuhi rimbun pohonan, penuh inspirasi. Ketika itu saya tak berpikiran jauh ke depan. Saya mengambil jurusan Bahasa dan sastra Indonesia demi sebuah kesenangan. Sejak kecil saya suka sekali membaca. Untuk mendapatkan kepuasan dalam hal membaca, akhirnya saya memutuskan berkuliah di bidang yang sejalur dengan hobi saya: membaca.
Maka bergelutlah saya dengan teori-teori sastra. Berbincanglah saya dengan berbagai genre sastra. Bergabunglah saya dengan komunitas sastra di kampus. Dan, berkenalanlah saya dengan puisi. Dulu, saya tak mengenal puisi. Hanya sekadar tahu dari pelajaran bahasa Indonesia di bangku SMU. Tetapi, setelah berkenalan dengan beberapa kawan, akhirnya setiap hari saya disuguhi pertanyaan-pertanyaan yang sama. Pertama, “Sudah menulis apa hari ini?”. Kedua, “Sudah dimuat di mana saja?”.
Dua pertanyaan yang dilontarkan teman-teman sangat mengganggu saya. Saya pun berpikir, “Mengapa tidak menulis saja?”. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar menulis. Saya tidak memiliki kemampuan untuk menulis, selama ini saya hanya membaca dan membaca. Itu pun untuk sebuah kesenangan. Akhirnya, setelah tahu, bahwa saya tak punya apa-apa untuk memulai menulis, saya pun berinisiatif untuk belajar dari karya teman-teman.
Hal utama yang saya lakukan adalah membaca, membaca, dan terus membaca. Saya baca semua buku yang saya temui. Pinjam dari teman kuliah, perpustakaan, tempat penyewaan buku-buku, dan kalau ada uang lebih saya membeli. Dan pilihan saya terhadap puisi kiranya adalah tepat. Puisi mengasah kepekaan saya untuk berbahasa, puisi melatih saya untuk menajamkan intuisi ketika menulis, memadatkan kata, dan berimprovisasi ketika kata-kata yang muncul hanya itu-itu lagi. Betapa puisi telah menggiring saya ke dunia yang tak sempat saya bayangkan sebelumnya.
Proses pembelajaran pun dimulai. Saya menulis puisi setiap hari. Berdiskusi dengan teman-teman di kelas, berdiskusi dengan teman-teman komunitas. Saya belajar sedikit demi sedikit untuk mencerna apa yang mereka ucapkan di dalam sebuah diskusi. Ketika mulai mengerti dengan apresiasi teman-teman, saya pun membandingkan. Ya, menulis dan membandingkan karya orang lain itu tak mudah. Saya kembali pada kebiasaan lama saya, yaitu membaca.
Kali ini kegiatan membaca yang saya lakukan bukan hanya sekadar membaca. Saya harus jeli, saya harus memahami mengapa para penyair yang karyanya saya baca mampu menghasilkan kata-kata yang begitu memikat. Saya membaca hampir semua karya-karya penyair. Baik yang termuat di media cetak dan yang terdapat dalam buku-buku antologi. Belajar membandingkan tulisan yang satu dengan tulisan yang lain, membuat saya terperangah. Pertama, setiap penyair mengusung ideologi masing-masing, membawa napasnya masing-masing. Kedua, setiap karya yang saya baca memiliki keistimewaan masing-masing, karakter-karakter yang berbeda. Ketiga, membuat saya berpikiran: betapa saya ingin seperti mereka.
Saya terus berlatih menulis puisi setiap hari, minimalnya menulis lima puisi. Saya tetap berdiskusi, mempelajari hal-hal baru di bidang perpuisian. Diam-diam saya memasang target: nanti, di semester tiga harus ada tulisan yang dimuat di koran atau dibukukan. Ada beberapa hal yang saya pertimbangkan ketika memasang target, pertama, agar saya berdisiplin diri untuk selalu menulis, kedua, saya ingin membuktikan pada teman-teman saya yang pernah berucap: menulis itu butuh bakat.
Saya menyadari dan saya sangat tahu diri, saya tak memiliki bakat dalam hal menulis. Tapi saya memiliki keyakinan, jika saya berusaha, jika saya giat berlatih, dan jika saya terus berjuang, saya pasti mampu dan bisa menulis. Lama-lama saya menemukan sesuatu dari puisi. Saya menemukan jiwa puisi. Akhirnya saya menyadari bahwa puisi yang saya tulis haruslah dari hati, bukan sekadar menuliskan.
Saya memiliki mimpi, yaitu pemuatan puisi di sebuah media. Saya pun mencari cara untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya. Pengiriman puisi ke media massa pun dimulai. Sebagai langkah awal, saya memilih media yang berada di Bandung. Saya pun mengirimkan puisi-puisi saya melalui pos. Setiap bulan saya mengirimkan puisi-puisi saya ke Pikiran Rakyat. Setiap bulan, saya mendatangi kantor pos, membeli prangko dengan harga yang sesuai dengan bea pengiriman. Minimalnya sepuluh puisi saya kirimkan dalam amplop tertutup. Dan apa hasilnya, bulan berikutnya amplop putih yang saya kirim balik lagi ke alamat rumah. Saya buka, dan saya mendapatkan catatan dari redaktur budaya yang memberitahukan bahwa karya saya tidak sesuai dengan kriteria redaksi.
Bulan berikutnya saya mengirimkan ke media yang sama dengan puisi yang berbeda. Mengirimkannya via pos dan menunggu kabar pemuatannya. Bulan berikutnya amplop tersebut balik lagi. Kirim lagi dan balik lagi. Kirim lagi dan balik lagi. Begitu seterusnya dengan catatan yang sama dari dari Redaktur yang sama pula. Rutinitas seperti itu saya lakoni selama dua tahun. Saya tak putus asa, saya mengambil hikmah dari setiap pengiriman dan pengembalian karya. Setidaknya nama saya dibaca di meja redaksi. Saya pun merasakan perkembangan tulisan saya. Berbincang dengan banyak teman memancing saya untuk mengirimkan karya ke media-media yang lain. Bosan dengan media yang sama, dan tidak dimuat-muat pula, saya akhirnya mencari celah ke meja redaktur yang lain.
Akhirnya target semester tiga tercapai. Puisi pertama saya dibukukan dalam antologi puisi bersama yang digagas tenam-teman dari Yogyakarta. Ketika mendapat paket kiriman yang datang ke rumah, saya girang bukan main. Tak pernah diduga, karya pertama saya dibukukan. Saya mendapatkan tiga buku dan sebuah syal hitam yang bertuliskan Dian Sastro for President! # 2 Reloaded. Merasa mendapatkan angin segar, saya melancarkan serangan ke berbagai media. Awalnya di wilayah sendiri, kini saya memberanikan diri mengirimkan ke luar wilayah. Alhasil, di tahun kedua, setelah pertemuan saya dengan redaktur budaya Pikiran Rakyat, dua puisi saya dimuat di lembaran Khazanah. Tak lama dari pemuatan tersebut, beberapa karya saya bermunculan di berbagai media. Saya pun menjadi terbiasa berteman dengan kamus. Membaca kamus merupakan salah satu senjata saya untuk tidak kehabisan kata-kata. Senjata lainnya adalah laki-laki. Bagaimana pun, kedekatan saya dengan beberapa laki-laki turut memperdalam saya ketika berdekatan dengan puisi. Menuliskan berbagai hal yang saya rasakan dalam hati. Bukankan inti dari puisi adalah ekspresi hati, seperti yang telah saya lakukan selama ini. Berekspresi dan kembali berekspresi.
Memadupadankan Kata-kata
Ternyata ilmu menulis itu terlampau luas. Saya tetap harus belajar berdisiplin diri untuk menghasilkan karya. Saya tetap harus berlatih untuk pengembangan gaya penulisan saya. Saya pun berusaha agar apapun yang saya tuliskan harus dapat diterima oleh pembaca –minimalnya dimengerti. Ketika puisi telah bersatu dengan jiwa saya, ketika sunyi dalam puisi telah saya maknai, telah saya pahami, diam-diam saya ingin berselingkuh. Bukannya tak setia, tetapi kehausan saya terhadap kata-kata membawa saya untuk berkenalan dengan cerpen.
Cerita pendek merupakan genre yang berbeda dengan puisi. Cerpen memiliki struktur yang sangat berbeda dengan puisi. Ketika teks puisi memiliki tekstur yang padat, maka cerpen adalah sifat yang berlawanan dengan puisi. Bahasa cerpen harus mampu menguraikan segala kejadian dengan kalimat-kalimat deskripsi yang jelas. Dua hal yang berbeda, padat makna dan urai peristiwa.
Maka saya pun mencoba berkenalan dengan cerpen. Kembali membaca cerpen-cerpen yang terdapat di berbagai terbitan. Belajar merangkaikan kata demi kata menjadi kalimat yang padu. Menyambungkan sebuah peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya. Mempelajari logika kalimat. Membandingkan tema-tema kehidupan yang dituliskan oleh para cerpenis. Kisah-kisah absurd dan kisah-kisah realita dalam urutan waktu yang sinkron.
Saya pun mulai dengan menuliskan cerita yang terjadi di sekitaran tempat tinggal. Ketika pertama saya menulis cerpen, kalimat-kalimat yang dihasilkan adalah kalimat-kalimat pendek. Saya berpikiran ini adalah imbas dari puisi. Saya terus berlatih agar mampu membuat kalimat-kalimat panjang dengan benang merah cerita yang tidak melenceng dari tema. Mencoba membangun jalin peristiwa menggunakan kalimat yang puitis. Beberapa teman menyimpulkan bahwa bahasa dalam cerpen saya adalah bahasa puisi. Tak mengapa. Saya malah keasyikkan mengembangkan kalimat-kalimat bernada romantis dalam cerpen yang saya tulis. Satu kelemahan ketika menulis cerpen, saya tak mampu, atau belum mampu mengembangkan konflik.
Seperti puisi, saya pun mengirimkan cerpen-cerpen saya ke berbagai media. Beberapa lomba penulisan cerpen pun saya ikuti. Bukannya haus kemenangan, tapi dengan penjurian tersebut saya dapat membuat penilaian terhadap karya-karya saya. Saya selalu menginginkan perubahan, ke arah yang lebih baik tentunya. Sampai sekarang saya menginginkan kemampuan saya terus bertambah di bidang kepenulisan. Saya benar-benar jatuh cinta dengan dunia kata-kata. Perjalanan kata-kata.
Pergumulan saya dengan kata-kata mengantarkan saya pada pertemanan di berbagai daerah. Saya tak menyangka akan memiliki banyak teman. Bertukar pikiran, bertukar cerita tentang proses kreatif, dan bertukar informasi mengenai budaya setiap daerah.
Sekarang, sudah lima tahun saya menulis. Dan benar kata orang, bahwa menulis adalah obat. Benar adanya bahwa menulis adalah terapi yang baik untuk kebahagiaan hati. Sampai saat ini saya merasakan kenyamanan di dunia kata-kata. Menulis dan terus menulis. Membaca dan terus membaca. Seperti kesenangan saya sewaktu kecil. Betapa hausnya saya terhadap bacaan. Membaca dan menulis merupakan dua hal yang membuka mata saya untuk melihat hal-hal yang tak terjamah oleh aktivitas saya. Melihat dunia melalui kata-kata yang begitu indah. Betapa.
SudutBumi, 25 Desember 2007