tidak ada yang pernah berkisah padaku tentang pelabuhan

tidak ayah juga ibu

hanya seorang lelaki

mendatangiku dan tibatiba bercerita tentang sebuah bandar

dia kisahkan segala bentuk hilir mudik

dari waktu yang tak kenal istirah

selalu menggiring sampan

sauh yang koyak

sebab waktu menjadikannya berkarat

aku merindui pelabuhan

dermaga ramai, juga camar dan elang laut

aku merindui lelaki itu

untuk kembali mendengar cerita

merasakan embus angin yang mendidihkan angananganku

aku mencarinya, tentu saja

setelah tahuntahun berlalu tanpa kepastian

bertanya kepada para pendatang

“apakah kamu bertemu dengannya di geladak tadi?”

sungguh aku ingin berjumpa dengannya

berbagi cerita, dan memastikan sebuah pilihan

sekian waktu

dan aku benarbenar jatuh cinta pada pelabuhan

bersepakat pada pasang surut

pada matahari dan bulan

aku akan menetap di sini

hingga waktu berhenti dan ombak menjadi kaku

tak dapat mengejarku

SudutBumi, 30 Agustus 2009