Dari Waktu ke Waktu

ada kesedihan menembus pori-pori mengenang kisah cinta yang berakhir apa lagi? selain kenangan yang terus membuih kepulan teh panas jejak-jejak di pantai juga lingkaran hari di ujung pulau hanya tersisa lagu sedih suara kereta api dan gemuruh langkah kaki mengiringi karnaval kota waktu berlalu dan cinta belum mau berubah wujud   SudutBumi, 12 Februari 2016

Yang Melepuh

barangkali kau tak akan lagi mengenggam tanganku yang melepuh tak mampu melawan waktu rasa nyeri menyerang dan aku tak bisa menulis kulitku jadi sensitif seperti hati di sekeliling masa lalu barangkali aku akan meninggalkan rumah sebab tak ada lagi yang kuharapkan, kecuali kesia-siaan jangan pernah mengungkit masa lalu tersebab telah aku selesaikan upacara keabadian berkali-kali…

Jeram Luka

kehilangan bisa menimbulkan air mata barangkali ya barangkali juga tidak sebab ada kepergian yang dinantikan serupa matahari dan gelap beriringan semesta kini enggan berpihak kepadanya doa-doa dilarung menjadi jeram luka debar juga rasa khawatir pada penghujan kapan musim berganti melupa pelukan teruslah berjalan mendekati muara rasa hirup geletar perut bumi yang tengadah dengung ini muncul…

Teh Pagi

aku menyeduh rasa rindu mengaduk-aduk kenangan bersama waktu terus melaju aku meneguk kehangatan hadir melalui ruap ratap melipat harapan untuk pertemuan selanjutnya SudutBumi, 2015 Dimuat Jawa Pos, 11 Oktober 2015

Nokturnal

kami menunggu jamuan dimulai satu per satu tamu berdatangan seorang perempuan tiba membawa pundak penuh mantra ia mendesis panjang tak ada yang paham maksudnya muncul laki-laki tua dari pintu masuk memanggil-manggil sebuah nama tak ada yang peduli dengan teriakannya angin menasbihkan nama suci tuhan pertemuan belum dimulai malam semakin berisi dan suara air di ujung…

Dalam Gelap

hujan mendatangkan nyala api menghadirkan bentuk bayang-bayang ketika pilihanmu menjadi abu jangan pernah salahkan takdir ia membebaskanmu menyukai apa saja termasuk lebur dalam dosa SudutBumi, 2015 Dimuat Jawa Pos, 11 Oktober 2015

Dilatasi Waktu

jam dinding memang sudah mati tapi, mengenang kepergian serupa membangkitkan goncang gemuruh dada juga air mata untunglah matahari memeluk tubuh sinarnya menghangatkan setiap jendela rumah yang nganga waktu terus melaju meski arloji kehilangan daya ungkap masa lalu berkejaran melintasi jerat diorama menyela setiap penanya berlarian selundupkan cinta tersisa waktu dan kamu menjelma ruang renung tak…

Dilarang Masuk

masa lalu menjadikan tubuhku dua pikiran bercabang-cabang melebihi seharusnya belum lagi kekinian yang mengejar untuk tepat waktu seseorang menutup pintu yang seharusnya terkunci sejak lama aku memaksa masuk menarik kenangan agar tetap bertahan menemani hidup dengan sisa senyum SudutBumi, 2015 Dimuat Jawa Pos, 11 Oktober 2015

Tuas Angin

jika ingin berbelok ke kiri kamu perlu menarik tuas ke arah kanan dunia menciptakan keterbalikan dan kamu akan membawaku ke mana? arus menghadang menghadirkan kenangan angin selalu berusaha membelokkan tujuan sekuat apa kamu teguh denganku? sementara di depan sana sekumpulan orang melambai mereka meminta pertolongan atau memberi bantuan bisa saja arus tak menepikan apa-apa kita…

Gunung Emas

—tumpang pitu sebelum tsunami datang beragam sajen dilemparkan ke atas bukit tertumpuk harta benda ditinggalkan tak ada yang tahu tumpukan itu menjadi gunung emas penahan laju angin penanda nelayan agar tak sesat di laut pancer setelah tsunami kala itu orang-orang datang sesuka hati melihat keindahan gunung dan laut beramai-ramai membawa perkakas siapapun datang tak terkecuali…

Pepasir Pantai Lombang

aku mencari jejakmu di antara deretan cemara udang hijau dipadu biru batang-batang dan aroma rindu menelusuri pantaimu rasa bertemu ragu tak ada bayangan ke manakah kau melangkah banyak jejak di tanah padat ini air laut memejalkan setiap pandangan kuda-kuda seolah membawamu ke tengah sana bersama perahu yang tak pernah karam menjejak lembut pasirmu aku tanamkan…

Konstruksi Elegi

kau bukan larik-larik itu hanya satu dua kata yang mengingat menggenapkan kenangan tentang kota dan pantai-pantai tentu saja suaramu hilang ditelan angin dan irama ombak kepada siapa aku bertanya menulis di kertas catatan kuliah atau di buku harianmu yang tersisa beberapa lembar ini bukan tentang cinta yang hilang kemudian aku mencari-carinya dalam mimpi ya, kau…