Tenung Cahaya

cahaya hadir dalam dirimu tak bisa disembunyikan sunyi membatasi jagat desah napas lama-lama jadi dinding nubuat kelopak malam menggulung setiap mimpi jajaran lelaki serupa tubuh perempuan terhalang bayangan angin menjelma sumber lalu suara mengiringkan rindu asmara tak henti-henti memenuhi hati menempa diri menunjuk inti masih ada yang disembunyikan mantra lesap lepas ke arah bibirmu!  …

Putaran

riwayat lahir di dinding menjumpai setiap wajah raut yang selalu berubah berusaha mencari rasa beberapa terjerat mimpi yang ditawarkan gumam lainnya berlari cepat tak ingin menyelesaikan waktu kunjung nama-nama mengingatkan kenangan yang buram dan berlapis gula rasanya ingin segera sampai agar segala ketakutan berhenti angin mengenalkan rasa dingin juga hangat sinar matahari berhentilah memaksa sebab…

Dalam Redup Doa

masih ada harapan bayang-bayang meninggalkan tuannya barangkali mencari takdir sendiri hanya tersisa gerak bibir mengeja nama tawa masih menerangi redup kasih alur cerita tak berubah dari hilir segala yang pernah terjadi dituliskan setiap hari melebihi mimpi hujan hanya lewat menguraikan kenangan dalam pikiran menunggu jam berdentang atau musim reda kepastian yang ragu akan terjadi hanya…

Ramalan

kilau matamu menceritakan kisah itu para penambang mimpi yang jatuh ke dasar tidur abadi tepukan di pundak menyadarkan kisah lelatu bunga api yang muncul setiap engkau tersenyum tak akan ada hujan setelah percakapan suara bungkam dan panorama hanya tersisa satu kedipan mata jangan dulu melangkah selesaikan alur yang kau buat tak baik menyisakan aba-aba untuk…

Tugas Hari Ini

aku akan menetap di bumi menanggalkan sayap-sayap menjelma rasa cinta setiap manusia adalah aku kecuali, mereka yang tak punya kasih sulit berkorban dari rasa kepemilikan saat menatapku kamu akan berdenyar pipi semerah kersen rela memberikan apa saja lakukan sesuatu agar gerak awan-awan tak memaksaku lekas pulang jangan diam saja atau tugasku benar-benar diselesaikan SudutBumi, 2015…

Dari Waktu ke Waktu

ada kesedihan menembus pori-pori mengenang kisah cinta yang berakhir apa lagi? selain kenangan yang terus membuih kepulan teh panas jejak-jejak di pantai juga lingkaran hari di ujung pulau hanya tersisa lagu sedih suara kereta api dan gemuruh langkah kaki mengiringi karnaval kota waktu berlalu dan cinta belum mau berubah wujud   SudutBumi, 12 Februari 2016

Yang Melepuh

barangkali kau tak akan lagi mengenggam tanganku yang melepuh tak mampu melawan waktu rasa nyeri menyerang dan aku tak bisa menulis kulitku jadi sensitif seperti hati di sekeliling masa lalu barangkali aku akan meninggalkan rumah sebab tak ada lagi yang kuharapkan, kecuali kesia-siaan jangan pernah mengungkit masa lalu tersebab telah aku selesaikan upacara keabadian berkali-kali…

Jeram Luka

kehilangan bisa menimbulkan air mata barangkali ya barangkali juga tidak sebab ada kepergian yang dinantikan serupa matahari dan gelap beriringan semesta kini enggan berpihak kepadanya doa-doa dilarung menjadi jeram luka debar juga rasa khawatir pada penghujan kapan musim berganti melupa pelukan teruslah berjalan mendekati muara rasa hirup geletar perut bumi yang tengadah dengung ini muncul…

Teh Pagi

aku menyeduh rasa rindu mengaduk-aduk kenangan bersama waktu terus melaju aku meneguk kehangatan hadir melalui ruap ratap melipat harapan untuk pertemuan selanjutnya SudutBumi, 2015 Dimuat Jawa Pos, 11 Oktober 2015

Nokturnal

kami menunggu jamuan dimulai satu per satu tamu berdatangan seorang perempuan tiba membawa pundak penuh mantra ia mendesis panjang tak ada yang paham maksudnya muncul laki-laki tua dari pintu masuk memanggil-manggil sebuah nama tak ada yang peduli dengan teriakannya angin menasbihkan nama suci tuhan pertemuan belum dimulai malam semakin berisi dan suara air di ujung…

Dalam Gelap

hujan mendatangkan nyala api menghadirkan bentuk bayang-bayang ketika pilihanmu menjadi abu jangan pernah salahkan takdir ia membebaskanmu menyukai apa saja termasuk lebur dalam dosa SudutBumi, 2015 Dimuat Jawa Pos, 11 Oktober 2015

Dilatasi Waktu

jam dinding memang sudah mati tapi, mengenang kepergian serupa membangkitkan goncang gemuruh dada juga air mata untunglah matahari memeluk tubuh sinarnya menghangatkan setiap jendela rumah yang nganga waktu terus melaju meski arloji kehilangan daya ungkap masa lalu berkejaran melintasi jerat diorama menyela setiap penanya berlarian selundupkan cinta tersisa waktu dan kamu menjelma ruang renung tak…