Kelok Jalanan

semoga masih ada perjumpaan
di lain kota, buat sunlie thomas alexander

malam itu, malam kedua pertemuan kita
di sebuah kota yang paling menyesakkan
tibatiba kau memaksakan sebuah pelukan
kau paksakan sebuah rengkuhan
“ah, pelukan yang tak romantis” ujarku
mau seperti apa, begitu tanyamu
tapi aku tak mau lagi mengukir kenangan di kota ini

malam itu, ketika kelam hampir abadi
kita susuri trotoar demi trotoar di malam penuh bulan
ketika tubuh lelahku bersandar di sebuah tugu
kau masih sempat membisikkan
“kau tetap gadis bungaku”
aku hanya tersenyum dan memberikan
segelas kopi manis yang hampir dingin
“minumlah, aku tak kuat lagi”

malam itu, kita temui pagi bersama dua puisi
kau melantunkan baitbait dengan mata menghadap langit
sementara asap gerbong kereta terpaut pada
cerita yang tak habis diumbar
tentang sesuatu yang kau rindukan

kita pun berpisah di pertigaan sawo jajar
kau melaju kencang
menerobos pagi yang hampir buta
“aku tak mau mengukir kenangan di kota ini”
bisikku pada kelok jalanan yang menelanmu

SudutBumi, 18 Februari 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s