Gadis Penjaja Kata-kata

Gadis itu tetap saja menjajakan kata-kata di gigir dingin. Masih ada lelah yang menggunung di dada segarnya. Matanya nyaris tak pernah tidur sepanjang malam, otaknya mereka-reka setiap kata yang akan diucapkan. Entah sudah berapa ribu malam ia lakoni pekerjaan itu, pekerjaan yang hanya menghasilkan beberapa ratus uang untuk makannya di siang hari. Siang hari tanpa kata.
Seperti hari kemarin. Ujung jalan ditimpa cahaya remang dari lampu jalanan memantulkan bayangan sekolompok orang yang saling memukul dalam diam. Hanya gerak. Kesiur angin seakan membekukan waktu. Gadis itu melihatnya, lalu bergegas memasuki jalan raya yang ramai, kembali menjajakan kata-kata. Menaksir jarak antara kata satu dengan kata lainnya yang berloncatan dari bibir tipisnya yang mungil. Mengingat kata-kata apa saja yang sudah ia ucapkan agar tak diulanginya malam itu.
Selalu seperti itu. Pakaian bermotif bunga, syal ungu melilit manis di leher jenjang, wajah polos tanpa sapuan kosmetik, dan sandal coklat yang pudar warnanya. Tubuhnya pun selalu menguarkan wangi khas seorang perempuan. Aura kesucian terpancar dari sisi-sisi tubuh tipisnya. Gadis manis yang dapat bertahan hidup hanya dengan menjajakan kata-kata, dan yang selalu diincar jerat mata laki-laki.
Bukan janji, tapi kata-kata yang dijajakan setiap malam selalu mengundang laki-laki untuk datang. Semua sia-sia. Tidak ada yang mengetahui kemana gadis itu melanjutkan perjalanannya untuk menjajakan kata-kata. Selalu tempat berbeda yang didatangi gadis itu. Semuanya tak berjejak.
Gadis itu hanya meninggalkan kenang. Kata-kata yang ia ucapkan selalu diingat pembelinya. Seolah nasehat, kata-kata itu tidak dilupakan oleh pendengarnya. Seperti obat mujarab kata-kata gadis itu dapat menghilangkan resah. Kata-kata penuh makna tentunya. Semua mencipta baris-baris keinginan untuk selalu bertemu kembali dengan gadis menjaja kata, namun tak akan mungkin.
Malam selalu ditingkahi sepi, tetapi tidak untuk gadis penjaja kata-kata. Malamnya ramai oleh kata. Begitu saja kata-kata meluncur dari hati ketika melihat wajah-wajah baru. Tidak selalu menyanjung, tidak semua kata-kata itu disukai pembelinya. Satu hal, ia menginginkan senyum di setiap wajah.
Gurat kesedihan selalu terbaca oleh pembelinya. Ternyata ia memiliki sisi balik dari pekerjaannya. Setiap orang selalu mengira-ngira apa yang membuat gadis penjaja kata-kata bersedih. Bukankah ia dapat menghilangkan resah setiap orang yang dijumpainya. Apa gerangan yang ada di hati dan pikirannya?
Malam berlipat kelam. Lampu-lampu jalanan menimbulkan polusi cahaya. Ada ekosistem terganggu karena silau dari kelap-kelip lampu. Burung malam mengira hari tetap siang sehingga lupa arah datang dan pergi. Kawanan kelelawar tak keluar dari sarangnya. Polutan yang tak disadari menyebabkan koloni-koloni terancam. Jalan ditimpa riuh kendara. Lalu-lalang mobil menimbulkan harap bagi gadis penjual kata-kata. Masih ada titik terang untuk menyambung hidup esok hari.
Tanpa berpikir panjang gadis itu menghampiri sebuah mobil yang terparkir dekat alun-alun kota. Segera diketuknya kaca pintu mobil bagian depan. Kaca itu terbuka perlahan. Perempuan di dalamnya tersenyum lalu berkata “Ada yang dapat saya bantu, Mbak?” Hening, tak ada jawaban. Gadis itu tiba-tiba saja berlari membuat perempuan dalam mobil terperangah. Ada seulas senyum yang ditinggalkan gadis menjaja kata-kata. Senyum yang tidak mudah dilupakan. Senyum yang jarang dijumpai ketika hidup ditingkah kerumitan.
Hanya bayangan lampu jalanan yang dapat mengawasi kemana gadis penjaja kata-kata pergi. Berjalan menuju gang-gang sempit, meninggalkan riuh jalanan sumber penghidupannya. Banyak pertanyaan yang mengendap dalam benaknya tanpa ingin ia jawab. Malam yang tidak biasanya.
Malam berikutnya. Tiba-tiba saja gerimis mengajaknya berlari mencari sisi jalanan yang teduh. Jalan raya ditinggalkan, jalan-jalan buntu didatangi, hanya kecewa yang didapati. Lengang tanpa kata, dunianya menjadi sunyi. Kata-kata menghirap entah kemana. Semua diam, mulutnya terkunci. Ada benang yang merapatkan kedua bibirnya. Tenggorokannya tercekat ketika jarum kata-kata mengunci lidah. Rapat.
Ingatannya kembali pada malam lalu, pertemuan dengan perempuan di dekat alun-alun kota. Perempuan itu telah menyedot seluruh kata-kata yang akan diucapkan gadis penjaja kata-kata. Lidahnya melumpuh ketika mata mereka saling menatap. Bagai tersihir begitu saja ia pergi, berlari.
Di antara temaran jalanan gadis penjual kata-kata kembali melihat sekelompok orang yang saling memukul dalam diam. Tak ada kata. Gadis itu tahu sebuah episode kematian berakhir malam itu. Tak ada cerita lagi yang akan dijajakan pada malam-malam berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s