Menulis: Ekspresi, Budaya, dan Katarsis

Menulis adalah bagian dari media berekspresi. Seseorang menulis karena ingin menuangkan berbagai ide yang telah menumpuk dalam pikirannya. Banyak orang tertarik dalam bidang tulis-menulis salah satunya ingin menjadi seseorang yang dikenal. Terlepas dari hal itu menulis adalah suatu kegiatan positif yang mendayagunakan kata-kata. Seseorang yang tidak dapat menuangkan ide-idenya secara lisan  dapat mengungkapkannya melalui tulisan.
Menulis adalah kegiatan yang tidak melulu berkhayal, karena jika seseorang telah memilih jalan hidup sebagai seorang penulis maka menulis haruslah menjadi bagian dari dirinya. Ada dua pilihan yang dimiliki penulis yaitu menulis untuk hidup atau hidup untuk menulis. Seseorang yang telah memilih jalan hidup sebagai penulis,  segala hal dapat ditulis dalam berbagai sudut pandang. Apapun yang terjadi, bukan hanya melulu untuk berekspresi tapi ia dapat memberikan ilmu kepada banyak orang.
Menulis adalah penuangan ide non verbal. Menulis tidak asal menulis karena dalam menulis semua indera kita bermain turut merasakan bagaimana lezatnya tulisan yang dihasilkan. Menulis dapat dijadikan terapi, entah itu menulis fiksi atau non fiksi. Menulis juga merupakan tindakan pengakumulasian ilmu pengetahuan.
Seseorang dapat mengembangkan eksistensi diri dengan menulis, karena menulis adalah tindakan komunikasi yang kreatif. Komunikasi melalui teks dengan menggunakan kata-kata yang dirangkai menjadi kalimat tepat guna, sebagai ajakan juga sebagai wahana rekreasi. Bagaimana sepotong teks ditulis dan dapat mengajak pembaca berimaji. Seseorang dapat dilatih menjadi seorang penulis yang handal lalu memilih jalan hidup sebagai seorang penulis walaupun tidak memiliki bakat. Karena bakat tanpa berlatih adalah percuma. Seseorang menulis bukan karena ingin berekspresi saja, namun telah menjadi pilihan hidup, sandaran hidup dalam menuangkan ide-ide kreatif, pengembangan dan akumulasi ilmu pengetahuan.
Berhasil tidaknya seseorang menulis sangat dipengaruhi lingkungan. Sosialisasi terhadap lingkungan sampai menemukan hal-hal kecil yang unik dapat memperkaya tulisan. Karya tulis dapat semakin berkembang dengan dukungan penulisnya sendiri, maka seorang penulis haruslah memiliki rasa peka terhadap lingkungan.
Lingkungan yang baik dapat membantu seseorang menemukan kepekaan sosial. Tidak hanya peka tapi juga harus mampu mengembangkan sebuah wacana. Pengembangan sebuah wacana tidak dapat terlepas dari teknik penulisan, teknik inipun  lambat laun pasti ditemukan. Seorang mahasiswa pasti terbiasa dengan kegiatan tulis-menulis. Berawal dari sebuah tugas mata kuliah lalu berkembang menjadi kegiatan yang terus-menerus diasah dan akhirnya dapat menajamkan karya yang dihasilkan.
Lingkungan dapat dijadikan media pengapresiasian. Hasil tulisan seseorang dapat dinilai apakah baik atau buruk dari lingkungan pendukungnya. Kegiatan menulis ini akan semakin terasah jika kita mau menerima berbagai kritik dan berusaha membenahi setiap hasil tulisan. Tidak sedikit tantangan yang ditemui saat menulis, berbagai hal yang tidak pernah diduga dapat dijumpai ketika menulis. Pro dan kontra dari lingkungan harus diterima karena sebagai individu penulis tidak dapat lepas dari lingkungan, karena lingkungan merupakan tempat kita berasal.
Setiap orang memiliki jadwal yang berbeda dalam menuangkan ide-ide kreatifnya. Beberapa orang dapat menulis kapan saja, ketika perasaan ingin menulis datang. Ada juga yang menulis dalam waktu-waktu tertentu, misalnya: bangun tidur, siang hari, sore atau malam hari, bahkan menjelang tidur. Waktu yang berbeda-beda ini disesuaikan dengan kesibukan masing-masing individu. Namun jika menulis telah menjadi pilihan hidup, sebuah tulisan dapat dilahirkan kapan saja tanpa mengenal waktu.
Menulis tidak sembarang menulis, ada kalanya pengendapan dibutuhkan untuk mematangkan suatu tulisan. Pengendapan ini juga memiliki batasan waktu. Misalnya seorang penulis menemukan kejadian menarik yang kemudian ingin dituliskannya, namun ia membutuhkan tenggang waktu untuk menuangkan dalam selembar kertas. Proses pengendapan ini sebenarnya dapat memperlambat seseorang dalam berkreasi, namun proses ini dapat menghasilkan suatu tulisan yang benar-benar berkualitas.
Kemajuan teknologi seperti sekarang ini semakin mempermudah seseorang untuk melakukan kegiatan tulis-menulis. Dengan fasilitas internet kita dapat langsung menggunakan waktu luang yang ada untuk menulis, misalnya menggunakan blog. Tulisan dapat dihasilkan kapan saja dan dimana saja tidak terikat pada ide, karena setiap langkah yang dilalui seorang penulis haruslah menjadi sumber ide.
Menulis adalah kegiatan yang mengasyikkan, walaupun begitu ada saja hambatan-hambatan yang kita temui. Rasa malas dapat mengganggu kinerja dalam tulis-menulis. Seseorang harus membiasakan diri, jika rasa malas datang dan sukar hilang kita harus dapat menangkis serangan malas.
Waktu merupakan satu hal yang harus diperhatikan jika seseorang hendak menulis. Carilah waktu luang, waktu yang tidak terganggu oleh berbagai kegiatan. Ketika seseorang akan memulai menulis dan kemudian terganggu maka akan membuyarkan konsentrasi. Manajemen waktu diperlukan untuk memberikan kesempatan diri untuk berekspresi.
Hambatan lain jika tulisan telah jadi. Seseorang yang tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi dapat menghambat pengembangan setiap tulisan. Percaya diri harus dipupuk agar kita dapat mengetahui sejauh mana tulisan kita memiliki kualitas yang baik. Jika rasa percaya diri telah kuat kita harus dapat menjalankan tradisi tulis-menulis ini secara berkelanjutan. Jika satu tulisan telah kita selesaikan, kita harus berpacu dengan waktu untuk menghasilkan tulisan-tulisan lainnya yang baru. Seseorang yang tidak konsisten dalam dunia tulis-menulis dia akan ketinggalan dan tidak dapat mengembangkan diri lebih jauh. Aturan-aturan dalam media menjadi kendala seseorang untuk menulis karena kebebasan berekspresi seseorang dikekang, tapi ini adalah tantangan bagi seorang penulis.
Roh manusia tidak dibedakan gendernya yang membedakan hanya fisik laki-laki dan perempuan. Laki-laki dari Mars dan perempuan dari Venus adalah sebuah jarak pembeda yang tidak dapat dibenarkan. Hasil karya yang dihasilkan oleh penulis tidak ada hubungannya dengan gender. Hasil karya seseorang hanya dinilai dari kualitas karya yang dihasilkan. Fenomena saat ini menunjukkan bahwa penulis perempuan lebih dipandang, tetapi tetap saja bahwa tulisan dilihat dari kualitas.
Kualitas tulisan dapat diamati dari keseringan seseorang menulis. Semakin sering berlatih semakin baik hasil tulisannya. Pemuatan karya di suatu media massa menambah motivasi seseorang untuk selalu menulis. Namun pemuatan hasil tulisan di media massa bukanlah jalan akhir seorang penulis. Penulis dapat membuat media sendiri agar tulisannya menjadi konsumsi umum dan dapat dinikmati oleh siapa pun.
Jika bertolak pada media massa maka seorang penulis harus dapat mengikuti pasar dan menulis secara berkesinambungan. Jika hasil tulisan ingin langsung diterbitkan menjadi sebuah buku, penulis harus mengetahui beberapa aturan yang ada dalam penerbitan. Banyak juga media-media alternatif yang hadir. Media alternatif ini membebaskan siapa saja yang ingin menulis guna pencapaian kreativitas dan kualitas.
Sumber bacaan atau referensi sangat mempengaruhi hasil tulisan. Buku yang dibaca oleh seseorang dapat berpengaruh dalam pengembangan karya. Membaca sesuai kebutuhan menjadikan tulisan lebih bernilai karena memiliki dasar-dasar yang kuat. Dengan membaca seseorang mempunyai wawasan yang lebih luas dan memiliki perspektif lain mengenai dunia yang sedang digelutinya.
Membaca adalah awal dari tindakan menulis. Seseorang yang telah banyak melahap buku bacaan sekali waktu ingin menumpahkan kembali gagasan-gagasan yang telah dihimpunnya. Maka tidak salah jika seseorang menulis, mengekspresikan apa-apa yang ingin dituliskan melalui fiksi atau non fiksi.
Kegiatan menulis dapat dijadikan sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang kemudian ditularkan pada orang lain dan menjadi sebuah tradisi. Tradisi menulis atau budaya menulis saat ini sedang berkembang di masyarakat luas. Budaya  merupakan hasil berpikir setiap individu. Budaya menulis akan selalu ada sampai kapan pun, dan akan tetap bertahan walau suatu saat nanti akan berubah. Budaya menulis telah ada sejak lama dan sejarah dikenang karena dituliskan.
Setiap budaya pasti akan ada yang melestarikannya, siapa pun itu dan budaya apa pun itu. Perkembangan budaya menulis semakin lama semakin meningkat, ini dapat diketahui dengan menjamurnya berbagai komunitas yang mengkhususkan diri dalam bidang kepenulisan. Jika kita mendatangi toko buku akan kita temukan begitu banyak buku baru yang ditulis oleh penulis baru.
Budaya menulis akan berkembang dan tentu saja perkembangannya itu tidak akan terlepas dari media, baik media massa ataupun media elektronik. Perkembangan suatu budaya pasti akan berkaitan dengan budaya lainnya. Budaya menulis akan seiring sejalan dengan budaya membaca. Tapi untuk mengembangkan atau mempertahankan suatu budaya diperlukan kesadaran yang tinggi dari masyarakat pendukungnya. Suatu budaya dapat berkembang dan bertahan dengan dukungan penuh sekelompok orang yang memang berkompeten di suatu bidang dan ini dapat dipertahankan.
Budaya menulis akan tetap bertahan jika para penulis selalu menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas. Penulis tidak harus selalu mengikuti trend ketika menghasilkan suatu tulisan, karena penulis memiliki idealisme sendiri yang dipegang kokoh. Maka budaya menulis akan selalu berkembang selama ada masyarakat pendukungnya dan selama para penulis aktif  menghasilkan tulisan.
Bagaimana seseorang mengawali menulis? Maka mudah saja, ia hanya dapat melakukan tiga hal yaitu menulis, menulis, dan menulis. Untuk menambahkan kepekaan dan kualitas dalam bidang tulis-menulis maka seseorang hanya dapat menambahkan dua hal lagi yaitu membaca dan membaca. Jika digabungkan seseorang dapat menulis dengan dengan lima langkah utama dan mudah yaitu: membaca, menulis, menulis, menulis, dan membaca.
Berawal dari niat kecil untuk membudayakan menulis, kita dapat memperhatikan lingkungan sekitar. Banyak hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian. Berbekal ide dan pengalaman sehari-hari kita dapat membudayakan kebiasaan menulis. Melakukan pengamatan hal yang dapat dikembangkan demi kemajuan kualitas tulisan. Menghilangkan rasa malas guna menambah kuantitas hasil tulisan. Banyak berlatih dan mengekspresikan hal-hal yang kita dapat dari tontonan maupun dari pendengaran kita. Saat menulis kita harus benar-benar menggunakan indera kita, jangan sampai salah satu indera mati rasa karena akan mengganggu kesetaraan rasa yang akan kita bangun atau yang telah kita bangun.
Untuk berlatih kita dapat menulis buku harian. Pelatihan seperti ini akan membiasakan kita untuk berdisiplin. Cara lain adalah membiasakan diri berkirim surat. Walaupun teknologi telah menjauhkan kita dari kegiatan surat menyurat dengan berbagai fasilitasnya seperti telepon, sms, e-mail, dll. Kegiatan surat-menyurat dapat melatih bagaimana kalimat-kalimat verbal dengan baik dituliskan.
Pengembangan diri melalui tulisan dapat kita lakukan dengan bergabung dengan komunitas yang sejalan dengan kegiatan kita yaitu komunitas menulis. Di luaran sana banyak yang memiliki kesukaan yang sama dengan kita yaitu menulis. Dengan mengikuti kegiatan tersebut kita dapat berbagi pengalaman dalam bidang kepenulisan juga akan mendapatkan pengalaman baru bahkan mungkin dapat inspirasi untuk tulisan kita selanjutnya.
Menulis adalah semacam katarsis dalam kehidupan, kelegaan emosional didapat dengan mudah setelah menuangkan ide-ide yang menumpuk dalam pikiran. Kebiasaan menulis tidaklah merugikan, malah menghasilkan banyak keuntungan. Untuk memulainya sangat mudah, pikirkan hal menarik. Lalu tulislah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s