versi padepokansastra

Puisi Dalam Mimpi Aku Menulis Puisi terpilih jadi Yang beruntung I versi padepokansastra, berikut apresiasinya.Selamat membaca.

Yang Beruntung I : Dalam Mimpi Aku Menulis Puisi

Dalam Mimpi Aku Menulis Puisi

tubuhku demam
panas telah memerangkap sebagian katakata
dan aku limbung dalam geletar sunyi

hanya ada kuas
dan aku mencampur lak
bersiap mengukir kata dengan darah kesumba

aku berpuisi
dengan bahasa asing
menulis puisi dengan rasa cemas

aku takut puisi menjauh dari diriku
kutuliskan kata per kata
kuperhatikan sekitar
aku takut puisiku dicuri orang
nyawa katakata hanpir lepas dari tubuhku

berganti bait
kurahasiakan sebagian cerita hidup
tapi puisi di tanganku
tak dapat bungkam
jelujur jemari terus melukiskan kisahkisah
tentang kesakitan matahari
tentang remang bulan
karena malammalam jadi milik sang pemimpi

ketakutanku memuncak
tanganku diam
hanya ada gemetar yang jadi beku
aku terperangkap di ruang katakata
tak dapat mengembalikan puisi pada makna

dalam mimpi aku menulis puisi
bertarung mengalahkan katakata
yang jadi bagian hidupku


SudutBumi, 16 April 2008

Oleh Dian Hartati

===================================================================

Catatan dari padepokansastra:

Hahaha, mengapa aku tertawa? Karena sebuah puisi adalah kekejaman penafsiran luar biasa bagi sebagian orang. Itulah mengapa orang jarang doyan berpuisi. Padahal puisi tidak semenyiksa itu. Nikmati saja. Masalah beda penafsiran, yo wis jangan kesiksa. seperti halnya puisi ini yang bercerita tentang puisi juga. Hehehe jadi tambah pusing? Jangan menyerah dulu, dalam puisi hal paling penting adalah: pemilihan kata (diksi) oleh si penyairnya. Itulah sebabnya dalam menikmati dan menafsiri puisi hendaknya kayak lagunya Andra and the Backbone: “Main Hati”. Artinya, ajaklah hati Anda menyentuh setiap kata, coba cari anasir lain dari setiap makna yang diungkap dalam kata-kata. Kata-kata itu dapat menyembunyikan simbol atau makna tertentu. Misalnya, dalam puisi ini. Ingat, ini hanya apresiasi dan penafsiran saya. Anda berhak punya apresiasi sendiri.
Apakah makna: Dalam Mimpi Aku Menulis Puisi? Mengapa aku mesti mimpi? Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa kehidupan ini mimpi, dan kematianlah yang membangunkannya. Lalu:

tubuhku demam
panas telah memerangkap sebagian katakata
dan aku limbung dalam geletar sunyi

Ketika hidup kita merasa seperti “saki”t dan membuat hati-pikiran bergejolak karena memikirkan makna atau masalah di balik sesuatu, kadang kita terlompat pada dunia yang soliter. Kayak ikan cupang dalam botol: sendiri. Tapi keukeuh ada suatu hal yang harus dikeluarkan saat kesunyian itu mencekam kita. Malah, kadang dunia ini seakan mencengkeram kita dengan menjauhkan orang-orang di sekeliling.

hanya ada kuas
dan aku mencampur lak
bersiap mengukir kata dengan darah kesumba

Nah, inilah yang membedakan manusi dengan makhluk lain. Kita mesti memberontak dengan mengeluarkan ekspresi. Namun, tetap ekpresi kita tetap harus bermakna seperti kita mencoretkan kuas dengan diiringi perasaan paling dalam. Bagi Anda yang biasa curhat saat batin tertekan itu mungkin bisa menjadi “kuas” Anda. Atau, kerap mungkin Anda menuliskannya dalam buku harian. Atau …. ah yang penting kita telah menjadi diri sendiri dengan “mengukir kata dengan darah kesumba”.

aku berpuisi
dengan bahasa asing
menulis puisi dengan rasa cemas

Apakah apa yang kita ungkapkan dari sanubari kerap kita mengerti juga? Atau jangan-jangan itu hanya sebatas luapan emosi kita yang tempo nanti malah seperti “berpuisi dengan bahasa asing?” Sesuatu yang nantinya malah tidak kita kenal.

Nah, agar Anda tidak mengikuti pendapat saya, silakan Anda persepsikan sendiri makna lain dari terusan bait-bait puisi karya Dian Hartati ini.

aku takut puisi menjauh dari diriku
kutuliskan kata per kata
kuperhatikan sekitar
aku takut puisiku dicuri orang
nyawa katakata hanpir lepas dari tubuhku

berganti bait
kurahasiakan sebagian cerita hidup
tapi puisi di tanganku
tak dapat bungkam
jelujur jemari terus melukiskan kisahkisah
tentang kesakitan matahari
tentang remang bulan
karena malammalam jadi milik sang pemimpi

ketakutanku memuncak
tanganku diam
hanya ada gemetar yang jadi beku
aku terperangkap di ruang katakata
tak dapat mengembalikan puisi pada makna

dalam mimpi aku menulis puisi
bertarung mengalahkan katakata
yang jadi bagian hidupku

Sumber: http://padepokansastra.multiply.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s