Cerita Menjelang Tidur

on

Seorang anak selalu tak dapat memejamkan mata jika tidak mendengar cerita pengantar tidur. Berkali-kali ibunya menasihati agar si anak lekas tidur karena esok hari akan bersekolah. Si anak tetap teguh dengan keinginannya. Mendengar cerita tentang para pendekar jagoan yang menghuni istana putih. Akhirnya sang Ibu bercerita di tepi tempat tidur anaknya.
Tentang orang-orang baik di istana putih. Istana yang berada di ujung langit. Istana yang dinaungi awan-awan berwarna kelabu. Warna awan yang menawan. Orang-orang baik yang berarti pendekar jagoan. Pahlawan yang melindungi istana putih dari pengaruh jahat. Seluruhnya memakai baju warna putih. Tanda kebersihan hati dan kesucian hati.
Di istana itu terdapat sebuah gua yang letaknya tidak jauh dari pintu gerbang istana putih. Gua yang berbeda dengan gua-gua yang berada di seluruh dunia. Gua yang selalu terang padahal tidak ada lampu yang meneranginya. Gua tempat para pendekar melatih ilmu yang mereka miliki.
Gua putih tempat tinggal peri Anggun. Peri yang mengatur seluruh awan-awan yang menaungi istana putih. Peri yang mengatur bergeraknya arah angin. Peri yang selalu sibuk. Walaupun begitu, peri Anggun selalu memperhatikan para pendekar berlatih dan menambah ilmu. Adakalanya peri Anggun menaburkan bulir-bulir air untuk menghilangkan dahaga para pendekar.
Marilah kita melihat pendekar Pustaka yang giat melatih kepandaiannya. Pendekar Pustaka selalu membawa buku ke mana pun ia pergi. Pendekar pustaka selalu berada di sebuah ruangan yang dipenuhi buku-buku. Berbagai ilmu baru dihafalnya. Tidak hanya mengahafal, tetapi juga memahami ilmu-ilmu baru.  Peri Anggun senang sekali jika melihat kegesitan pendekar Pustaka.
Hingga pada suatu hari, datanglah pengacau ke istana putih. Si pengacau menantang seluruh pendekar. Si pengacau ingin mengambil alih kekuasaan istana putih. Dengan penuh semangat, para pendekar menghadapi pengacau tersebut. Berhari-hari dihadapi si pengacau dengan berbagai ilmu yang dimiliki para pendekar. Namun, sudah hari ketiga istana putih masih dicekam ketakutan. Si pengacau memang licik. Hingga akhirnya pendekar Pustaka menghadapi si pengacau dengan strategi yang lain daripada yang lain. Pendekar Pustaka mengandalkan ingatannya untuk menghadapi musuh. Diingat-ingatnya seluruh buku yang telah dibaca. Hingga akhirnya pendekar Pustaka tahu apa yang harus dilakukannya.
Pendekar Pustaka menyiapkan jebakan agar dapat menjerat pengacau ke arah gua putih. Si pengacau pun tidak sadar telah masuk dalam jebakan pendekar Pustaka. Setelah dekat dengan wilayah gua putih, pendekar Pustaka mendorong si pengacau dalam mulut gua. Dengan segera hilanglah si pengacau dimakan cahaya puith yang memenuhi gua putih.
Kau hebat sekali pendekar Pustaka. Peri Anggun memberi selamat kepada pendekar Pustaka. Akan kuberika hadiah padamu. Apa yang kau inginkan.
Aku tak ingin apapun peri. Aku hanya ingin melindungi istana putih dari pengacau. Aku tidak ingin istana ini dipenuhi bayang-bayang kejahatan. Oleh karena itu aku menjebaknya agar masuk ke dalam gua putih. Setahuku, setiap bayangan akan kalah dengan cayaha putih. Pendekar Pustaka menjelaskan cara dalam penghadapi pengacau.
Kau benar sekali pendekar istana putih. Bayangan hanya dapat dihalahkan olrh cahaya terang. Dari mana kau mengetahui cara mengalahkannya. Peri Anggun masih bertanya pada pendekar Pustaka.
Aku mengetahui cara menaklukkan bayangan, si pengacau dari buku-buku. Selama ini aku membaca banyak buku. Akhirnya aku dapat mempergunakan ilmu yang kumiliki Peri Anggun.
Selamat untukmu, Pendekar Pustaka. Aku akan memberikan banyak buku-buku untuk kau baca. Aku akan memberimu gelar pendekar Pustakawan. Apakah perlu aku bangun sebuah perpustakaan besar untuk kau belajar di dalamnya. Peri Anggun membeikan pilihan pada pendekar Pustaka.
Terima kasih peri Anggun. Aku akan menerima hadiah pemberian peri Anggun. Aku pun akan menjadikan gua putih ini perpustakaan bagi semua penghuninya. Aku akan selalu menjaga ketenangan istana putih dan akan terus memahami segala yang kubaca.
Istana putih aman dari gangguan musuh-musuh. Semua pendekar di istana itu pun menghormati Pendekar Pustaka yang selalu tekun membaca buku. Peri Anggun pun hidup dengan damai dan selalu memperhaikan pergerakan angin di sana.
Kini seorang ibu melihat anaknya memejamkan mata. Tertidur dengan damai. Si ibu berharap anaknya dapat tidur dengan mudah. Beristirahat dengan pulas karena esok hari akan berangkat ke sekolah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s