Di Kereta Api

on

Rini meninggalkan desanya pagi-pagi sekali. Rini akan berkunjung ke rumah kakaknya di kota. Rini pergi bersama ibunya. Keberangkatan ke kota sudah direncanakan jauh-jauh hari. Rini akan menjenguk kakaknya yang baru saja melahirkan seorang bayi. Dari desannya Rini menggunakan angkutan kota menuju stasiun. Rini akan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api.
Udara pagi yang dingin tidak membuat Rini malas mandi. Rini sangat bersemangat sekali pergi ke kota. Ini adalah perjalanan pertamanya menggunakan kereta api. Rini menduga-duga bagaimana rasanya berada di atas kereta api. Selama ini ia selalu pergi menggunakan bus jika hendak ke kota. Tapi kali ini, perjalanan akan sangat berbeda. Sampai-sampai Rini tidak merasa berbenabi membawa buah tangan untuk kakaknya.
Hari minggu memang hari yang sangat ramai. Hari libur yang sering dimanfaatkan untuk berrekreasi ke luar kota. Rini dan ibunya sengaja berangkat pagi-pagi sekali agar tidak terjebak macet. Selain itu karena jadwal keberangkatan kereta memang pagi-pagi sekali. Sama halnya dengan Rini, ibunya pun membawa banyak oleh-oleh untuk anaknya di kota.
Rini dan Ibunya berangkat pukul lima lewat tiga puluh menit. Mereka keluar rumah setelah berpamitan pada ayahnya. Keduanya berjalan sampai di ujung desa. Di ujung desa telah menanti sebuah mobil. Mobil tua itu hampir dipenuhi oleh penumpang. Tak lama berangkatlah mobil itu ke tempat-tempat yang menjadi tujuan para penumpangnya.
Sepanjang jalan Rini menimkati perjalanan dengan diam. Rini memperhatikan keramaian pasar ketika mobil itu singgah di pasar. Ada beberapa penumpang yang turun di pasar. Kesibukan pasar terlihat dengan aktivitas jual beli. Banyak yang dijual di pasar. Sesekali Rini pergi ke pasar untuk mengantar ibu. Itu pun tidak tiap hari, karena Rini bersekolah pagi. Jika mendapat giliran sekolah siang hari, sesekali Rini membantu ibunya. Apalagi jika kebun milik keluaraganya sedang panen. Bersama ayahnya, Rini sering ke pasar untuk menjual pisang-pisang yang dipanen.
Mobil melanjutkan perjalanan. Beberapa orang turun di lapangan bundar yang letaknya tidak jauh dari pasar. Ternyata di lapangan bundar telah berkumpul banyak orang. Mereka akan berolahraga di pagi yang segar ini. Di lapangan pun telah banyak penjual yang mengelar dagangannya.
Stasiun adalah tempat terakhir yang dituju oleh mobil yang kunaiki. Aku melihat wajah ibu yang gelisah.
“Kenapa Bu?” tanyaku ketika telah turun dari mobil.
“Tidak ada apa-apa, Ibu hanya khawatir tertinggal kereta.” Ibu berjalan tergesa-gesa.
“Semoga tidak Bu. Kereta juga ada jadwalnya kan?” Jawabku menenangkan hati Ibu.
“Yah, semoga saja kita tidak ketinggalan kereta.”
Kami langsung antre di loket pembelian karcis. Beberapa orang telah membentuk barisan panjang. Aku berdiri di dekat penjual makanan sambil memperhatikan bawaan yang banyak. Sementara Ibu ikut berbaris untuk membeli karcis.
Setelah menunggu lima belas menit, akhirnya Ibu kembali ke tempat aku menunggunya. Kami langsung saja memasuki pintu masuk dan menunggu kereta datang. Banyak sekali gerbong-gerbong yang berada di atas rel besi. Baru kali ini aku memasuki tempat seperti ini. Sepertinya aku berada si tempat asing.
Aku dan Ibu berdiri di jalur tiga. Menurut jadwal kereta akan datang sepuluh menit lagi.
“Untuk tidak terlambat ya, Rin,” Ibu akhirnya berbicara.
“Tenang saja Bu. Kita kan sudah berangkat pagi-pagi sekali. Lagi pula, kereta selalu ada setiap jamnya. Jadi Ibu jangan khawatir.”
“Iya sih Rin, tapi perjalanan kita hari ini hanya satu hari. Kita bukan pergi berlibur tapi menjenguk kakakmu. Dan nanti sore kita harus segera kembali ke rumah. Besok kamu harus sekolah kan?”
“Iya Bu, tenang saja. Besok Rini sekolah siang, jadi kalau harus menginap di rumah Kakak ya tidak masalah.”
Ibu tersenyum mendengar Rini.
“Bersiap-siaplah. Itu kereta sudah datang.”
“Iya Bu, tenang saja.”
Kereta perlahan-lahan memasuki stasiun. Ibu menggenggam tanganku dengan erat. Aku lihat penumpang lainnya mendekati rel. Kereta akhirnya berhenti. Jaraknya tidak begitu jauh dengan tempat aku berdiri. Ibu segera melangkah mendahuluiku untuk memberiku ruang untuk berjalan dan naik ke atas kereta. Hap! Aku sudah berada di gerbong. Kereta masih belum berjalan. Ibu segera mencari tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera di karcis.
Perasaanku begitu melambung. Seperti inikah ruangan dalam kereta api. Gerbong yang kulihat ternyata lumayang luas. Tidak kecil seperti dalam bayanganku. Kursi-kursi berderet rapi di sisi kiri dan kanan. Di tengah kosong untuk berjalan orang-orang. Rini mengikuti langkah ibunya mencari kursi yang dituju. Namun sayang, kursi yang ditujunya telah diduduki oleh seorang nenek.
“Rini duduk di sebelah nenek itu ya,” Ibu berkata pelan pada Rini.
“Ibu di mana?” Rini khawatir berpisah dengan ibunya.
“Tenang saja. Ibu akan berdiri di dekat tempat duduk Rini.”
“Baiklah.” Rini bergegas duduk tanpa banyak mengeluh.
Rini pun tersenyum kepada nenek yang duduk di sebelahnya.
“Mana ibumu, Nak?” Nenek itu bertanya pada Rini.
“Itu, Nek.” Rini menunjuk ke arah ibunya.
“Tidak apa-apa jika Ibumu mau duduk. Nenek sebentar lagi turun.”
“Tidak perlu Nek. Nenek duduk saja. Nanti saya duduk setelah Nenek sampai di tempat tujuan.” Ibu Rini tersenyum ramah.
“Terima kasih. Maaf ya, Nenek menduduki tempat ini.” Nenek berkacamata itu berkata pada Rini.
“Tidak apa-apa,” jawab Rini singkat. Ia sudah senang dengan posisinya yang duduk dekat dengan jendela. Rini dapat melihat pemandangan yang tak pernah dinikmatinya sebelumnya.
Betapa menyenangkan naik kerata api. Walupun penuh, angin yang masuk dari jendela tidak membuat suasana panas. Rini memandangi sawah-sawah yang terhampar. Hijau. Ya, hanya hijuan yang dipandang Rini.
“Belum musim panen. Jadi hanya hijau kau kau lihat.” Rini memandang ke samping. Ternyata Ibunya telah duduk di sampingnya.
“Nenek yang tadi mana Bu?” Rini bertanya kebingungan.
“Anak ibu ini tidak memperhatikan nenek tadi ya.”
“Habisnya, Rini selalu melihat ke luar jendela. Ibu kan tahu, baru kali ini Rini naik kereta api.”
“Jadi gimana rasanya?”
“Senang, Bu. Walaupun sesak, tetap asyik.”
“Untung kamu dapat tempat duduk. Kalau tidak kebagian kamu akan berdiri sampai kota tujuan.”
“Ya, mungin ini keberuntungan kita hari ini ya, Bu.”
“Karena kita pergi pagi-pagi.”
“Iya, Bu.” Rini tersenyum. Pandangannya beralih kembali ke luar. “Kapan kita samapi Bu? Masih lama ya?”
“Sebentar lagi Rini. Ingat ya, kita harus bersiap-siap sebelum sampai. Jadi ketika tiba di stasiun tujuan, kita sudah berada dekat pintu gerbong. Jadi mudah turunnya. Mengerti?”
“Siiip….” Lagi-lagi Rini tersenyum mendengar penjelasan Ibunya.
Kereta terus saja melaju. Meninggalkan stasiun-stasiun. Gerbong-gerbong semakin dipenuhi penumpang. Beberapa penumpang telah turun di tujuannya. Pedagang menawarkan barang-barang yang berlainan. Ada minuman sampai-sampai makanan berat.
“Kamu tidak lapar?” Ibu Rini bertanya pada anaknya.
“Tidak, Bu.” Rini hanya menjawab singkat tanpa menoleh ke arah ibunya.
Ibu Rini hanya geleng-geleng anaknya melihat tingkah laku anaknya.
“Siap-siap turun,” beberapa saat kemudia Ibunya Rini mengingatkan.
“Sudah sampai ya Bu?”
“Sebentar lagi. Ayo bawa barang-barangmu.”
Rini melangkah meninggalkan tempat duduk dan melangkah mendekati pintu gerbong. Ketika menoleh ke belakang, kursi yang tadi didudukinya telah diisi oleh seorang perempuan muda yang tersenyum ke arahnya.
“Hati-hati,” ibunya berpesan.
“Tenang Bu.”
Rini merasakan laju kereta melambat. Rini yang sudah berada di depan pintu dengan mudah turun.
“Bagaimana perasaanmu Rini?” tanya ibunya ketika meninggalkan stasiun.
“Senang, Bu. Rini ingin naik kereta lagi. Senang rasanya berada dalam kereta. Seperti berayun-ayun tiada henti.”
“Ah, kamu ini ada-ada saja, Rin….”
“Benar, Bu. Sekarang kita naik apa Bu? Rumah Kakak masih jauh?”
“Dekat. Kita harus naik mobil satu kali, lalu sampailah ke rumah Kakak.”
“Rini sudah tidak tahan ingin menceritakan pengalaman ini pada Kakak.”
“Kalau Ibu sih, sudah tak sabar melihat cucu yang baru lahir.”
“Rini juga begitu. Rini akan ceritakan pengalaman ini pada bayi kecil yang mungil itu.”
Ibu Rini menyetop mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah kakaknya. Kota yang ramai membuat perasaan Rini semakin bahagia. Rini pasti akan menceritakan pengalamannya itu kepada teman-temannya esok hari di sekolah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s