Kokok Ayam Jago

Pada suatu saat, hari tiba-tiba siang. Seluruh penduduk kota Mesha terlambat beraktivitas. Semuanya terlambat bangun. Rengek bayi terdengar di setiap gang. Derap kuda yang terburu-buru terdengar di jalan-jalan kota Mesha. Sekolah-sekolah terlambat memulai kegiatan belajar. Pasar yang terdapat di kota itu pun terlambat melakukan transaksi jual beli.
Kota Mesha adalah kota kecil yang berada di daerah pegunungan. Hawanya yang selalu dingin membuat penduduknya selalu asyik dalam selimut-selimut tebal. Di kota itu, tidak ada penunjuk waktu yang dapat digunakan oleh orang-orang. Mereka yang tinggal di kota Mesha, sangat mengandalkan petunjuk matahari. Tanda untuk memulai kegiatan di setiap harinya, masyarakat kota Mesha sangat bergantung pada seekor ayam.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja tak seorang pun penduduk mendengar kokok ayam jago di pagi hari. Semua orang merasakan hangat matahari memasuki kamar. Hangat yang membangunkan mereka dari tidur dan mimpi indah. Penduduk kota Mesha kebingungan karena mendapatkan hari telah siang. Padahal banyak pekerjaan yang harus dilakukan pagi hari.
Sambil terkantuk-kantuk mereka membuka jendela kamar dan mendapati matahari sudah berada di atas pohon Katelli. Pohon yang meneduhi kota Mesha dari sengatan matahari. Satu per satu penduduk kota Mesha memulai aktivitas, tentunya dengan kebingungan. Ke mana suara kokok ayam jago yang biasa membangunkan kota Mesha.
Seekor ayam jago dipelihara oleh sebuah keluarga di tengah kota. Hanya ada satu-satunya ayam di kota itu. Jago yang disayangi oleh seluruh penduduk Mesha. Jago yang bertugas membangunkan seluruh penghuni kota Mesha. Sudah bertahun-tahun jago itu berkokok dengan suara nyaring. Membangunkan seluruh penduduk kota Mesha. Kini para orantua bertanya-tanya, mengapa jago tak lagi berkokok. Ada apa gerangan?
Beberapa orang mendatangi rumah keluarga Buneros. Keluarga Buneros adalah keluarga yang memelihara sang jago. Rumah keluarga Buneros yang berada di tengah kota dapat dengan mudah dikunjungin siapa saja. Tak terlihat ada kesibukan di halaman rumah besar itu. Kakek berjanggut merah mengetuk pintu.
“Dug… dug… dug….”
“Dug… dug… dug….”
“Dug… dug… dug….”
Lama sekali, tapi akhirnya pintu terbuka. Seorang perempuan muda memberikan senyuman ramah pada sang tamu.
“Lama sekali. Ke mana Tuanmu?” Kakek berjanggut merah bertanya dengan wajah kesal.
“Maaf, Kek. Saya sedang berada di belakang. Membersihkan kandang si jago.” Perempuan muda itu mempersilakan beberapa orang yang datang bertamu.
“Mengapa rumah ini sepi sekali?” Ibu berbaju panjang bertanya.
“Semua orang sedang pergi.”
“Pergi ke mana? Kapan mereka berangkat, mengapa aku tak melihat mereka berangkat. Padahal rumahku di seberang rumah ini?” Ibu itu bertanya lagi.
“Silakan duduk dulu, saya akan mengambil minuman untuk kalian semua,” perempuan muda itu tetap ramah menghadapi tamu-tamunya.
“Tidak perlu kau repot karena kedatangan kami.” Seorang bapak berkumis berkata.
Setelah semua orang duduk dengan tenang, perempuan muda itu memberikan jawaban pada ibu berbaju panjang.
“Begini Bu…., semua orang yang berada di rumah ini pergi tadi malam. Tengah malam mereka sekeluarga melakukan perjalanan ke luar kota.”
“Keberangkatan yang aneh. Mengapa harus tengah malam, dan mereka akan pergi ke mana. Bukankah sebaiknya menunggu matahari terbit, barulah pergi setelah hari terang,” Bapak berkumis berkata.
“Lalu ke mana kokok ayam jago milik kita semua. Aku tidak mendengar kokonya tadi pagi.” Kakek janggut merah langsung bertanya tanpa memberi kesempatan pada perempuan muda.
“Iya, aku juga dan seluruh penduduk kota ini tak mendengar kokok jago. Semua orang terlambat bangun. Aktivitas yang seharusnya dilakukan pagi hari begitu saja terlewatkan,” Ibu berbaju panjang bertanya panjang lebar.
“Beri penjelasan pada kami semua, mengapa bisa terjadi seperti ini.” Bapak berkumis semakin tak sabar.
“Sabar, semuanya sabar. Saya akan menjelaskan keadaan si jago.” Perempuan muda tetap saja tersenyum.
“Keluarga Buneros pergi dengan membawa si jago…” belum selesai perempuan muda itu mejelaskan sudah dipotong oleh tamu-tamunya yang hadir.
“Mengapa dibawa pergi….”
“Ya, mengapa pergi….”
“Kamu tahukan seluruh penduduk sangat tergantung….”
“Tenang, saya akan jelaskan….”
“Ya, ya, ya, kalian diamlah semua, ” Kakek janggut merah mengetuk-ngetukkan tongkat kayunya.
“Keluarga Buneros membawa jago ke luar kota untuk membawa sang jago ke dokter hewan. Bapak-Ibu mungkin sudah mendengar desas-desus yang beredar di kota tetangga.”
“Desas-desus apa itu…,” ibu berbaju panjang tak sabaran.
“Tentang penyakit yang sedang mengancam ayam-ayam.”
“Aku tidak tahu….”
“Ya, apa itu? Aku tidak tahu….”
“Katakan pada kami, penyakit apa itu….”
“Begini, Keluarga Buneros mendengar bahwa di kota tetangga tengah merebak penyakit yang menyerang ayam, bahkan sampai-sampai bisa mematikan ayam-ayam itu. Nah, Keluarga Buneros tidak mau jago milik kita semua terkena penyakit itu. Oleh karena itu, malam hari, ketika si jago nyanyak tidur, Pak Buneros memasukkan jago ke dalam kandang kecil untuk di baea ke kota tetangga. Si jago akan diperiksa kesehatannya dan diberi semacam cairan anti penyakit agar tahan terhadap apapun.”
“Ooo….” serentak ketiha tamu perempuan muda itu berkata.
“Mengapa harus ke luar kota. Ke kota tetangga, jangan-jangan nanti jago miliki kita tertular penyakit yang sedang merebak.”
“Kalian tahu kan, bahwa di kota ini tidak ada dokter hewan. Satu-satu dokter hewan yang ada, hanya di kota tetangga itu. Jadi bagaimana pun harus dibawa ke sana.”
“Lalu kapan mereka kembali,” Kakek janggut merah bertanya. “Kalau si jago berlama-lama di kota, maka setiap pagi kota Mesha akan selalu sepi. Tidak ada suara anak-anak yang menangis karena air terlalu dingin untuk mandi mereka. Tidak ada aktivitas pasar karena semua orang tertidur.”
“Tenang, Kek. Pak Buneros mengusahakan tengah malam nanti tiba di rumah ini. Kita berharap saja semoga semua berjalan dengan lancar. Si jago dalam keadaan sehat.”
“Baiklah kalau begitu. Tapi…, tadi kau bilang kau sedang berada di halaman belakang di dekat kandang. Sedang apa kau?” Bapak berkumis itu menatap perempuan muda.
“Saya ditugaskan untuk membersihkan kandang si jago. Makanya tadi saya agak lama membuka pintu untuk kalian.” Perempuan muda segera beranjak dari duduknya.
“Baiklah kalau begitu, kami semua pulang dulu. Akan dikabarkan pada penduduk Mesha tentang kepergian jago milik kita. Agar tak bertanya-tanya lagi. Nanti kerjamu malah terganggu lagi.” Bapak berkumis itu meninggalkan ruang tamu diikuti Ibu berbaju panjang dan kakek janggut merah.
“Terima kasih jika kalian mau mengabarkan kepada penduduk kota ini. Kita hanya berharap agar si jago dalam keadaan sehat-sehat saja.”
Maka menyebarlah dari mulut ke mulut berita tantang sang jago. Sebagian orang khawatir mereka tidak bisa bangun pagi karena tidak ada suara koko di pagi hari. Para orangtua telah menyiapkan jadwal agar mereka tidur bergantian dengan para tetangga. Berjaga-jaga untuk membangunkan penghuni kota Mesha. Mereka semua tidak mau kehilangan pagi yang dingin di kota itu.
“Kukuuruuuyuuuuuuk….”
“Kukuuruuuyuuuuuuk….”
“Kukuuruuuyuuuuuuk….”
Pagi hari di kota Mesha kembali sibuk. Kokok yang dinantikan penduduk akhirnya terdengar kembali di esok harinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s