Kucing

“Meong….“
“Miauw….”
“Meong….“
“Miauw….”
“Meong….“
“Miauw….”
Kirana asyik memperhatikan dua kucing kesayangannya. Dua kucing kecil yang memiliki bulu-bulu lembut dan bersih. Kucing pertama bernama Meong, memiliki bulu hitam legam. Kucing yang kedua diberi nama Miauw, memiliki bulu coklat terang. Kirana sangat menyayangi kedua kucingnya, sampai-sampai memberi nama sesuai dengan suara kucingnya.
Setiap hari, Kirana telaten memberi makan dua kucingnya. Sebelum berangkat sekolah, disiapkan segala makanan dan minuman yang diperlukan Meong dan Miauw. Rumah kardus dibersihkan dan diberi pasir baru agar dua kucingnya tidak buang kotoran di mana pun.
Kirana tidak pernah lupa akan kewajibannya itu. Pulang sekolah, Kirana melihat apakah persediaan makanan dan minuman Meong dan Miauw masih ada atau sudah habis. Jika perlu Kirana menambahkan agar kucing-kucing kesayangannya tidak kelaparan.
“Meong….“
“Miauw….”
“Meong….“
“Miauw….”
“Meong….“
“Miauw….”
Kirana ingat benar, bagaimana kucing itu sampai berada di rumahnya. Rumah sederhana yang hanya dihuni oleh kedua orangtunya dan Kirana sendiri. Kakak-kakak Kirana semuanya berada di kota. Bersekolah dan bekerja. Di rumahnya yang sederhana itu, Kirana sering kesepian. Ia hanya ditemani ibunya di siang hari. Ayahnya hanya dapat dijumpai malam hari karena bekerja. Sejak kepergian kakak-kakaknya, Kirana sering murung sendiri.
Sampai akhirnya suatu hari, ketika hujan deras mengguyur, banyak hewan yang berteduh di halaman rumah Kirana. Setelah hujan reda semua hewan meninggalkan rumahnya, kecuali kucing kecil yang sangat kurus. Kulit lebatnya basah tak karuan. Kirana kasihan melihat kucing yang menggigil kedinginan itu.
Akhirnya, Kirana membawanya ke dalam rumah. Membersihkan dan mengeringkan bulu-bulu kucing tersebut. Setelah diberi makan dan minum, kucing itu mengingau. Kirana terpana mendengar suara kucing itu. Ibu Kirana mengingatkan agar Kirana segera mengeluarkan kucingnya dari rumahnya. Kirana tidak menuruti kehendak ibunya. Sampai akhirnya, Ibu Kirana sendiri yang mengeluarkan kucing tersebut.
Sepanjang malam Kirana tidak dapat tidur memikirkan kucing yang memiliki suara yang indah tersebut. Matanya tidak juga dapat terpejam walaupun sudah dipaksakan. Dengan berbagai cara akhirnya Kirana baru tertidur menjelang pukul tiga pagi.
Ketika mau pergi sekolah, Kirana melihat kucing yang kemarin dibersihkannya masih berada di seberang rumahnya. Kasihan sekali kucing itu. Semalaman kedinginan di luar rumah. Mungkin sama halnya dengan Kirana sendiri yang tidak dapat tidur karena memikirkan kucing tersebut.
Dikarenakan hari sudah siang, Kirana tidak memedulikan kucing yang ada di hadapannya tersebut. Kirana bergegas berangkat ke sekolah dengan wajah sedih. Di sekolah pun, pikiran Kirana tidak beralih dari kucing berbulu tebal itu. Kirana pun berpikir, jika nanti sewaktu pulang ke rumah kucing itu masih ada, Kirana akan memeliharanya. Kirana akan membujuk ibu dan ayahnya.
Tiba di rumah, Kirana tak menemukan kucing yang dirindukannya. Wajah Kirana kembali murung. Masuk ke dalam rumah dengan bersedih hati dan langsung masuk ke dalam kamar.
“Ada apa Kirana? Mengapa kusut sekali wajah anak Ibu ini?” Ibu Kirana masuk ke kamar Kirana dan memperhatikan anak kesayangannya.
“Ibu tidak melihat kucing yang kemarin?” Kirana tidak memandang wajah Ibunya. Ia tetap tertunduk.
“Kucing yang mana? Kemarin banyak kucing yang berteduh kan?”
“Itu lho Bu, kucing yang Kirana mandikan. Kucing yang berbulu lebat itu.”
“Oh…, kucing yang itu bukan?” Ibu Kirana menunjuk ke luar arah jendela kamar Kirana.
Mata kirana mengikuti pandangan ibunya. Sosok mungil sedang bermain-main sendiri di sebuh rumah kardus. Wajah Kirana berubah cerah. Kirana melangkahkan kakinya ke arah rumah kardus. Senyumnya lebar memandang apa yang ada di hadapannya.
“Ibu, bolehkah Kirana memeliharanya?” Wajah Kirana penuh harap.
Ibu kirana hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Terima kasih Bu….” Kirana memeluk ibunya.
“Meong….“
“Miauw….”
“Meong….“
“Miauw….”
“Meong….“
“Miauw….”
Kirana tersenyum melihat tingkah kedua kucing miliknya. Setiap hari Kirana menyisir bulu-bulu kucing miliknya. Kirana sangat memperhatikan kebutuhan Meong dan Miauw. Sesekali Kirana membawa kedua kucing kesayangannya itu ke dokter hewan untuk diperiksa kesehatannya. Kirana tidak mau jika kedua hewan yang sangat berharga di matanya itu sakit.
Kirana menemukan Miauw di sebuah taman. Ketika mengajak Meong berjalan-jalan untuk menikmati sore yang hangat, seekor kucing lain mengikuti langkahnya sampai ke rumah. Kirana sangat tidak tega jika harus membiarkan makhluk hidup, apalagi kucing, kedinginan di dekat rumahnya.
Setelah membujuk ibunya dengan sedikit memaksa, akhirnya Kirana diperbolehkan membawa kucing yang mengikutinya ke dalam rumah. Kirana tidak membedakan perhatiannya kepada salah satu kucing. Setelah memandikan dan membersihkan kucing yang mengikutinya, Kirana memberi makan dan minum. Kucing yang berbulu halus itu pun mengiau. Lagi-lagi Kirana jatuh hati kepada kucing yang baru ditemukannya. Kirana tidak mau berpisah dengan kucing yang baru itu.
Akhirnya setelah bersepakat dengan ibu dan ayahnya, Kirana diperbolehkan memelihara dua kucing yang kini dinamainya Meong dan Miauw. Seperti suara yang didengar Kirana setiap hari. Kucing yang tidak merepotkan siapapun walaupun sering ditinggalkan Kirana ke sekolah.
“Meong….“
“Miauw….”
“Meong….“
“Miauw….”
“Meong….“
“Miauw….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s