Percakapan Layang-layang

“Apa yang membuatmu risau?” tanya Layang-layang saat dirinya tersangkut di Pohon Nyiur.
“Tak ada, mengapa kau tak terbang saja. Mengapa memilih berdiam di tubuhku?”
“Jangan salahkan aku,” jawab Layang-layang. “Aku tak cukup kuat menerbangkan diri sendiri. Apa kamu tidak lihat, tubuhku terjepit di antara buah-buah kelapa.”
“Ya, aku juga heran kenapa angin tak datang-datang. Sudah dari kemarin tubuhku tidak bergerak. Kaku, pegal-pegal rasanya,” Nyiur menggerutu dengan ulah Angin.
“Ke mana ya Angin?” gumam Layang-layang.
“Itu ada burung terbang, coba tanya dia saja!” seru Pohon Nyiur.
“Patii… Merpati! Kemari sebentar,” teriak Layang-layang.
“Waduh-waduh ada apa nih? Heboh sekali kalian berdua.”
“Cuma mau tanya,” Nyiur tak sabar, “Ke mana perginya angin. Tubuhku pegal nih dari kemarin tidak bergerak-gerak. Lihat tuh, Layang-layang seenak saja bertumpu di tubuhku yang tinggi ini. Aku kan capek!” Nyiur menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.
“Angin? Mungkin Angin sedang malas bertiup, mungkin Angin sedang beristirahat dia capek tiap hari mondar-mandir mengelilingi arah mata angin yang ada delapan itu.”
“Oo… jadi Angin jalan-jalan ke semua arah?” Layang-layang bingung dengan penuturan Merpati.
“Iya, Angin itu setiap harinya harus pergi ke utara, timur, selatan, barat, balik lagi ke utara. Dia kan capek putar-putar terus. Tidak ada yang membantu, jadi wajar kalau Angin sekarang sedang tidur. Istirahat gitu lho….”
“Tapi merpati, tadi kamu bilang delapan…” Layang-layang minta penjelasan lebih pada Merpati.
“Selain yang sudah aku sebut tadi, Angin juga suka mampir ke barat laut, timur laut,  tenggara, juga mampir ke barat daya,” papar Merpati.
“Haahhh…, capek juga ya kalau aku yang jadi Angin,” Nyiur berkomentar. “Merpati, kok kamu bisa tahu?” Lanjut Pohon Nyiur.
“Ya, harus tahu dong! Aku terbang ke mana-mana, kalau tidak tahu arah bagaimana aku bisa pulang ke kandang di barat sana.”
“Jadi rumahmu eh, kandang tempat tinggalmu di barat ya, barat itu di mana?” tanya Layang-layang masih tak mengerti.
“Barat itu di sebelah sana,” Merpati menunjuk dengan sayap kanannya dan melanjutkan, “di tempat matahari selalu terbenam.”
“Ohh….” Layang-layang dan Nyiur kompak
“Merpati bantu aku ya,” Layang-layang merayu.
“Membantu apa?”
“Bawa aku dengan paruhmu ya, aku bosan di atas sini. Selalu diam tak bergerak.”
“Kamu mau ke mana?” Merpati bertanya.
“Terserah, ke mana saja. Aku tidak tahan terhimpit di antara buah-buah kelapa ini. Mau ya? Please….” Layang-layang memohon pada Merpati.
“Iya deh aku bantu. Tapi paruhku tak cukup kuat membawamu lama-lama,” Merpati menjelaskan.
“Yang penting kamu lepaskan aku dari himpitan ini.”
“Baiklah, tapi kalau tubuhmu sakit kena paruhku jangan menjerit.” Merpati mengajukan syarat.
“Ya, aku akan tahan. Selamat tinggal Nyiur, maaf ya. Daahhh….” Pohon Nyiur ditinggalkan sendiri oleh Layang-layang dan Merpati.
“Terima kasih Merpati!” Teriak Layang-layang ketika merpati meninggalkannya di atas lautan.
“Angin kamu ke mana sih? Lihat tubuhku meluncur begitu saja menuju laut. Aku takut! Angin tolong terbangkan aku! Angin di mana kamu!” Layang-layang berteriak-teriak sambil meluncur lurus ke bawah menuju gemuruh ombak.
Duugggkk!!!
“Siapa nih menganggu tidur siangku!” Karang Laut berteriak kaget.
“Maaf… bukan salahku,” Layang-layang tak menyangka tubuhnya terdampar di sebuah karang di tengah lautan.
“Kamu Layang-layang, kok jauh-jauh amat terbangmu?”
“Ini gara-gara Angin!”
“Maksud kamu? Memang sih sudah beberapa hari Angin tidak datang.”
“Ya, gara-gara Angin aku tidak dapat terbang. Kamu tahu angin sedang apa?”
“Mana aku tahu! Semenjak Angin tak datang aku memilih tidur sepanjang hari.”
“Kalau begitu riwayatku berakhir dong? Tak ada Angin berarti diam, diam berarti mati,” Layang-layang putus asa.
“Duh, kamu jangan patah arang ya. Masih ada harapan, mungkin besok Angin datang kemari dan menerbangkanmu.”
“Semoga saja begitu. Angin datanglah…,” Layang-layang memohon.
“Sabar saja, sesuatu itu perlu waktu,” Karang Laut mencoba mendamaikan hati Layang-layang.
“Dengar….” Perintah Karang Laut.
“Ada apa?” Layang-layang menajamkan pendengaran.
“Kamu dengar ada suara yang begitu lembut,” Karang Laut menjelaskan.
sssshhhhhssssshhhh….
“Bukankah itu suara Angin?” tanya Layang-layang senang.
“Benar itu suara Angin, dia akan datang menjemputmu. Kamu dapat terbang lagi.”
SSSSHHHHSSSSSSHHHH….
“Dengar, suara lembut itu semakin dekat. Kamu dapat merasakan ada perpedaan suhu?” tanya Karang Laut memastikan.
“Ya, aku yakin itu suara Angin. Aku harus siap-siap menyambut Angin. Akhirnya dia datang. Terima kasih….”
“Hati-hati… sampai jumpa lagi,” teriak Karang Laut menyadari kepergian Layang-layang.
Sssshhhhssssshhhh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s