Peri Buku

on

Malam dipenuhi bintang-bintang. Dari tempat tidurnya Rama memandangi buku cerita yang tergeletak di atas meja belajar. Entah bagaimana ia harus meminta maaf pada Jaka, besok di sekolah. Buku yang sudah dipinjamnya selama tiga hari itu sobek. Rama menyesal karena harus berebut dengan adiknya tadi siang. Alasan apa yang harus Rama berikan, ia tidak mau membuat Jaka kecewa.
Setelah berpikir panjang, akhirnya Rama memutuskan akan berkata jujur pada Jaka. Semoga saja sahabatnya mau mengerti dan memaafkan kejadian itu. Ditariknya selimut warna merah yang berada di tepian tempat tidur. Dibenahinya letak bantal dan guling agar posisi tidurnya nyaman. Selesai berdoa Rama mematikan lampu lalu tidur. Banyak harap yang ada di benaknya.
Pagi-pagi sekali Rama membereskan buku-buku yang akan dibawanya ke sekolah. Tempat pensil, penggaris, semua pe-er yang sudah dikerjakan dengan sempurna Rama rapikan dalam tas punggung yang berukuran sedang.
“Apa lagi ya?” Rama mengingat-ingat.
“Rama, sudah selesai beres-beres? Ayo kita makan,” tak disangka Ibu mengawasi di depan kamar.
“Sudah Bu,” jawab Rama singkat sambil bergegas menuju ruang makan.
“Buku cerita itu….” Ibu menunjuk buku milik Jaka yang terletak di kursi.
“O, ia hampir saja tertinggal…” Rama bingung kenapa buku itu ada di ruang tamu, bukankah tadi malam ada di kamarnya?
Selesai makan Rama berangkat ke sekolah diantar oleh ayahnya. Dalam perjalanan  Rama masih menyimpan pertanyaan tentang letak buku. Rama yakin sekali tidak pernah memindahkannya. Ah sudahlah, harusnya Rama berterima kasih karena ibu telah mengingatkan.
Di kelas Rama menanti-nanti kedatangan Jaka. Rama sudah menyusun kalimat permintaan maaf yang akan diucapkan nanti. Lima belas menit sebelum bel tanda masuk berbunyi Jaka datang. Dengan wajah bersungguh-sunguh Rama mengembalikan buku kepada teman satu mejanya itu.
“Jaka, ini bukunya terima kasih ya. Tapi…”
“Tapi kenapa Ram, ada apa dengan buku kesayanganku?” Wajah Jaka berubah.
“Maaf, Jaka. Ada satu halaman yang sobek. Maaf ya saya tidak sengaja….”
“Sobek?!” wajah Jaka menegang, Rama tertunduk takut tidak dimaafkan.
“Kok bisa?”
“Kemarin siang Lisa merebut dengan paksa ketika saya sedang membacanya,”
“Lisa adikmu yang masih kecil itu?”
“Iya, maaf. Kamu jangan marah ya, saya benar-benar tidak sengaja?”
“Coba lihat halaman mana yang sobek?” Ucap Jaka. Segera saja Rama memberikan buku itu hati-hati. Jaka langsung memeriksa halaman buku satu per satu. Rama memperhatikan baik-baik perubahan raut wajah sahabat karibnya. Dalam hati Rama berdoa agar keajaiban terjadi dan menghilangkan sobekan dalam buku yang sedang diperiksa.
“Bagaimana, maaf ya?” Rama masih memohon.
“Ya, baiklah saya maafkan kamu.” Jaka tersenyum memandang wajah sahabatnya yang mau berkata jujur.
“Terima kasih, saya tidak akan mengulangi kesalahan lagi.” Rama menjabat tangan Jaka. Mereka berdua tersenyum lalu duduk menanti guru karena bel sudah berbunyi.
“Rama, saya tak menemukan sobekan dalam buku ini?” bisik Jaka di tengah-tengah pelajaran.
“Masa? Coba saya lihat sebentar,” lagi-lagi kebingungan menyerang Rama di hari yang sama. Sekilas membuka-buka halaman buku dan memang benar, tak ada sobekan di dalam buku. Apakah keajaiban menghampiriku? Rama bertanya dalam hati.
“Kok nggak ada halaman yang sobek ya?” tanya Rama bingung pada Jaka.
“Mungkin diperbaiki oleh peri dalam mimpimu,” jawab Jaka seenaknya.
“Diperbaiki? Peri?” Rama tambah bingung.
Tiba-tiba saja Rama ingat kejadian pagi tadi di ruang tamu. Rama tahu siapa sebenarnya peri baik yang telah memberinya keajaiban. Terima kasih Ibu, Rama tersenyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s