Karamah

budak batu
dihapusnya peluh
ketika matahari membakar
hanya berkawan sunyi

kau tenggelamkan diri
melantunkan nama tuhanmu
sepanjang waktu
tak ada jeda
malam mengantarkan gigil
tak juga tidur
gamang
menanti kabar
siapa majikan berikutnya
“apakah aku mengenalinya?”

barangkali, malaikat berdatangan
setiap malam
menujumkan cahaya ke wajahmu
hingga terbebaskan
pintu pun terbuka

kau
berlari
berlari
berlari
menuju padang
meninggalkan segala bara
menjadi diri sendiri

pilihan batu
perjalanan dimulakan
menjemput cinta
karena kerinduan
begitu bergemuruh
tak terkendali

barat atau timur
selatan bahkan utara kota
kau tak pernah kehilangan arah
begitu tegas melangkah

padang pasir
lenyau angin
jalanan gasal
tak hentikan
gerimit bibirmu
nama tuhan
kau sebut
kau panggil
tak berkesudahan

syair batu
malam menghening
air mata terus mengalir

kau perawan suci,
memilih hidup sendiri
meneguhkan jalan
meninggalkan keindahan

menjauhkan
perkara manusia
mengejar kekasih
hingga genangan di sujudmu
menjadi kolam
jurang antara siang dan malam

“aku resah, takut ditinggalkan

inilah malam
tempat aku bersatu denganmu
menggenapkan semesta
melepaskan segala cinta padamu
bintangbintang tak hiraukan
aku melesat

menjauhkan mimpi
berdamai denganmu
tuhanku

sungguh
karena engkaulah
aku membakar surga
menjadikan istana mimpi
hanya bualan semata
rengkuh aku
jadi kekasih abadi”

siapakah tamu itu?
#1#
di rumah
tiada pelita, bahkan kendi air
kau melupakan hari tanpa makan
puasa katamu
menghapuskan segala salah

kau yang dibalut karunia
segala kesabaran

hitunglah roti itu
dari dua menjadi delapanbelas
dari duapuluh menjadi dua
sungguh matematika yang membingungkan
kau hanya tersenyum

inikah yang kau minta pada tuhan
kurasa tidak
sungguh cukup bagimu
menanak batu
membumbuinya dengan doa
harapan
dan rasa takut
#2#
di kamar
kau dan batu bata
berkawan setia

menutup mata
hingga berbuka
kembali

kau dan batu bata
tempat risau paling lena
takut tuhan pergi
dan tangismu berderai lagi

tak ada dirimu
tak ada tuhan
tak ada kesaksian
seluruh indra
merancang resah
#3#
berkisahlah para pendatang
mengantarkan bantuan
rabi’ah katakan apa maumu
pilih apa yang kau mau

kau terdiam
menduga diri
membakar iri

amarah
ah, tak ada rasa
seluruhnya lunas
demi cinta
tuhan
-ku

SudutBumi, 1431 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s