Taman Kunang-Kunang

–violetta simatupang

 

selepas malam
kita selalu mengintip kunang-kunang
berseliweran
di gorong-gorong
mendengar mereka berdebat
tentang jalanan yang lubang
kemacetan ditimbulkan
dan kita selalu terlambat sampai kantor

mereka yang bersinar
kerlap-kerlip
pijar malam tak pernah lelah
berpesta
menghabiskan berbotol minuman
bertandan puding
dan sup yang hampir saja dingin

berkisah ia
cara memasak sup
cara mengiris pudding
agar tak koyak
agar sedap dipandang

kunang-kunang dan rumahnya
tempat paling nyaman
untuk sembunyi
menghindari suara klakson
jadwal-jadwal padat
bahkan kekasih yang selalu merajuk

kau pernah mendengar
kunang-kunang membaca puisi
renyah sekali
lantang meneriakkan harga-harga
dari tas kulit sampai cabe rawit

kunang-kunang
membangun rumahnya sendiri
dari kata
dari angin
hingga kau yang di jauh sana
mendengar
ia sedang berpijar

malam hari kita selalu bercengkrama
meninggalkan mobil-mobil
membuang segala rutinitas
menggenapkan mimpi yang diretas

dingan
tapi kunang-kunang
tak peduli

ia tetap saja menyisir setapak
mencari jalan ke laut
berusaha bertemu umang-umang

kau yang di jauh sana
meneriakkan umpatan
memaksa melepas ikatan
ini tempatku berbiak
tak dapat kau paksa lepas
seumpama sipadan-ligitan

aku dan kunang-kunang
berahasia

tentang perangkap waktu

SudutBumi, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s