Kisah-Kisah Untuk Di

Aku selalu menyukai barang-barang berwana cerah. Memain-mainkannya hingga bosan. Bermain-main sendiri karena aku suka sekali di dalam rumah. Berkhayal tentang berbagai hal dengan mainan-mainan itu.

Sesekali aku melihat mom yang selalu duduk di kursi kesayanganya. Sambil memeluk buku. Hm, maksudku membaca buku. Aku belum pernah bermain-main dengan buku. Padahal di pojokan rumah ini aku selalu melihat berbagai buku. Suatu saat pasti buku-buku itu menjadi mainanku, gumamku dalam hati.

“Hai, gadis cerdas. Mengapa memandangi Mom begitu. Ada yang salah?” Tiba-tiba mom beranjak dari kursinya, meletakkan buku yang dia baca.

Aku hanya tersenyum, sedikit kaget karena tadi aku sedang mencermati buku yang dipegang mom. Sudah lama aku tidak lagi digendong mom. Semenjak perutnya membesar. Sehari-hari mom hanya ditemani buku, buku, dan buku. Sesekali menyuapi aku yang susah makan.

“Sudah malam. Ayo, kita tidur. Itu terlihat dari matamu yang cemerlang, Sayang. Mom akan ceritakan kisah tentang malam dan bunga.”

Aku menurut saja. Pergi ke kamar tidur yang tidak terlalu luas dan berbaring di atas kasur. Malam belum larut dan aku belum mengantuk. Mendengarkan mom membacakan cerita dari buku yang lebih tipis dibandingkan buku yang mom baca tadi sore. Mengasyikkan sekali mendengar suara mom yang renyah.

Semakin malam aku semakin semangat mendengarkan. Aku suka sekali berkhayal dan masuk ke dalam cerita yang mom bacakan. Sampai akhirnya, mom memadamkan lampu dan meninggalkan aku yang pura-pura terpejam.

***

Hari ini mom tidak menyuapi aku. Aku merasakan suasana yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Dad menyuapi aku dan memberiku banyak mainan.

Mom tidak keluar kamar. Mungkin keasyikkan membaca di kamar. Tapi, ada apa dengan dad? Dad sibuk sekali. Bolak balik dari dapur ke kamar tidur. Sesekali membawa tempat tempat air yang beruap. Hm, sepertinya dad membawa air panas.

Aku memperhatikan dad sambil mempermainkan lilin. Aku punya banyak lilin berbagai bentuk dan warna. Aku sangat menyukainya. Aku memandang lilin satu per satu. Wanginya enak. Aku cium-cium dan aku gigit-gigit. Hm, aku ingin menjadi lilin. Pasti selalu wangi. Aku akan berteman dengan lilin. Aku tersenyum-senyum sendiri. Aku akan menemui dad di kamar. Aku akan memberi tahu dad dan mom, kalau aku akan berteman dengan lilin.

Memasuki kamar dan, hei apa itu? Di samping mom ada seorang bayi. Lucu sekali.

“Mom ….” aku memandang mom yang berkeringat. Ternyata mom tidak membaca buku. Mom sedang memeluk bayi kecil.
“Ini adikmu, Sayang …,” dad mengangkat aku dan mendekatkan aku pada bayi kecil.
Bayi merah dengan mata yang sangat kecil. Wangi sekali aromanya.
“Sayang, kamu punya adik perempuan,” mom mencium keningku.
Aku tersenyum dan masih bingung. Aku lihat perut mom tidak lagi bulat besar. Aku tidak menyangka ada makhluk lucu dalam perut mom. Aku tersenyum dan melepaskan lilin di tanganku. Aku punya teman baru, aku punya adik baru. Senangnyaaa ….
***

Aku sangat bersyukur dikaruniai seorang adik perempuan yang sangat cantik. Bermain dan tumbuh besar bersama-sama. Mom selalu menyuapi kami berbarengan. Membacakan buku-buku dengan cerita yang selalu menarik. Mom pandai bercerita. Aku menyayangi mom, aku sangat sayang padanya.

Nama adik perempuanku Diana, aku senang memanggilnya Di. Suatu hari aku tidak boleh berdekatan dengan satu-satunya teman di rumah. Aku sedih sekali. Aku pikir mom begitu jahat. Aku sedih dan badanku rasanya sakit semua. Hm, ternyata aku sakit. Mom bilang aku terkena campak. Ternyata tidak enak sakit itu.

Untungnya Dad mau berdekatan denganku. Dia membacakan cerita dari sebuah buku yang lumayan tebal. Cerita tentang tikus tanah dan tikus air. Dad bilang, cerita yang dibacakannya adalah fabel. Duh, aku tidak mengerti apa itu fabel. Yang pasti aku senang dengan tokoh-tokoh dalam buku itu dan yang terpenting rasa sakit di badanku hilang.
***
Aku sudah segar. Lihat saja pipiku yang merah ini, seperti pipi Di sewaktu dia masih bayi. Aku dan Di berencana akan berjalan-jalan di sekitar rumah. Aku sudah siap dengan sedikit perbekalan. Akh, seperti mau ke mana saja, ya. Padahal aku dan Di hanya main di sekitar rumah.

Aku sudah menyiapkan cerita. Aku yakin, Di akan senang mendengarnya. Lalu kami berdua duduk di bawah pohon yang rimbun. Bayang-bayang matahari menaungi kami. Aku mulai bercerita tentang kelinci bergigi dua. Aku rasa, Di senang mendengar ceritaku. Dia lalu melompat-lompat seperti kelinci. Lucu sekali ….

Aku menceritakan beberapa cerita. Di memang adik yang baik, dia mendengarkan dengan caran yang menarik. Di selalu senang jika aku minta memerankan tokoh dalam ceritaku. Seolah tidak pernah bosan. Aku hanya tertawa-tawa dan menikmati menjadi sutradara kecil.

Tidak kenal lelah. Aku dan Di bermain perosotan di pegangan tangga. Di depan rumah kami ada tangga, tempat yang mengasyikkan untuk perosotan. Hihihi …. Pernah suatu ketika mom marah-marah. Pertama kalinya mom melihat aku dan Di naik-turun tangga.
Tenang mom, aku sudah tahu strateginya, kataku dalam hati dan meneruskan permainan.

***

Hari ini aku akan main sendirian. Di sedang sibuk bersama mom. Entah sedang melakukan apa. Aku dan Thumper akan berjalan-jalan. Thumper, anjing peliharaan keluarga kami. Aku akan memutari rumah dan berjalan agak jauh sedikit. Aku tidak takut jika berjalan-jalan dengan Thumper. Ia akan menjagaku, karena ia anjing yang pintar.

Aku melihat-lihat bangunan kastil yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Bangunan yang begitu megah. Pohon merayap di mana-mana. Sepi sekali di kastil itu. Aku memutarinya. Sesekali Thumper menggong-gong, seolah memberitakukan sesuatu. Ketika tidak ada siap-siapa aku melempari kastil itu dengan batu. Hm, terkadang aku memang sering iseng sendiri. Hm, capek. Pulang, ah ….

Setibanya di rumah, aku langsung membuka catatanku dan menuliskan cerita yang ada di benakku. Aku ingin segera menyelesaikannya dan menceritakan kisah baruku pada Di.

***

Hari libur datang juga. Aku dan Di berkunjung ke rumah nenek. Aku selalu senang jika kami sekeluarga pergi bersama.

“Di, nanti malam kita main toko-tokoan, ya? Aku penjual dan kamu pembelinya.”
“Kita akan bermain menggunakan uang asli, kan?”
“Tentu. Grandma dan Grandpa akan senang jika kita membantu mereka menjual barang-barang di toko.”
“Wah, aku ingin segera malam, hehehe ….”
Aku dan Di selalu berkawan. Untungnya dia anak penurut, jadi aku bisa memintanya ini dan itu.

Sampai juga ke rumah grandma dan grandma. Kami disambut hangat senyuman. Aku dan Di berpandangan, lalu menuju toko.

 

 

Keterangan: Cerpen ini diramu dari berbagai fakta dan cerita tentang J.K. Rowling saat anak-anak yang bersumber dari internet. Sebagai cerita pendek, cerpen ini tidak lepas dari berbagai kreasi imajinasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s