Apresiasi Kalender Lunar @Radar Tasikmalaya

Kalender Lunar Dian

Ada 82 puisi dalam antologi Kalender Lunar yang ditulis Dian Hartati terbit bulan Maret tahun ini yang siap menjadi bahasan menarik. Buku yang berisi sepilihan puisi yang Dian tulis sekitar tahun 2004 sampai 2009 ini, telah diberi kata pengantar oleh dosen saya, yakni Nenden Lilis A. Kemudian, buku antologi puisi Kalender Lunar ini terbagi atas tiga bagian: Prelude, Dongeng Cinta, dan Serat Waktu. Seluruh puisi Dian Hartati tidak terbatas oleh satu tema, begitulah kira-kira dosen saya mengawali kata pengantarnya di buku puisi Dian Hartati, Kalender Lunar.
Ketika saya membaca puisi-puisi Dian Hartati, saya pribadi jadi teringat beberapa tahun lalu, di mana dipertemukannya saya dengan penyair tersebut dalam sebuah ajang lomba. Dian perempuan yang cenderung asyik diajak ngobrol, berbicara soal apa saja, apalagi soal puisi. Ia tidak segan-segan meminta saran atau masukan untuk perkembangan puisinya. Dian adalah pendengar yang baik sekaligus setia, apalagi kalau sudah berhadapan dan mengobrol dengan teman-teman seperjuangannya. Hingga sampailah, Dian yang mandiri dan telaten, saya tangkap dari pertama kali bertemu, setidaknya itu yang saya ambil sedikit kesimpulannya.
Puisi-puisi Dian rupanya tidak jauh dari pembacaan sekilas terhadap penyairnya, puisi-puisinya tidak membuat kita berkerut kening ketika membacanya, Dian tidak suka bersusah-payah dalam mengungkapkan ide dan gagasan dalam puisinya. Terbukti dari pemilihan diksi, gaya ucap dan gaya bahasa, puisi-puisi Dian begitu lugas dan rapi tanpa lupa untuk memerhatikan unsur-unsur puitik.
Hampir seluruh puisi dalam Kalender Lunar, adalah puisi yang tercipta atas kesadaran dimensi waktu, apakah itu masa lalunya sebagaimana lekatnya berbagai kenangan-kenangan, masa sekarang atau masa yang sedang dihadapinya sebagai penyair, juga masa depan dipandang sebagai harapan dan impiannya.
Misalnya pada Puisi seperti “Prelude”, dengan gamblang Dian berbicara persoalan eksistensi dirinya sebagai bentuk dari jelmaan kata yang hidup dari masa lalu dari ingatan. Dalam bagian ke II puisi itu Dian menulis : aku takkan pergi/ karena aku hanya kata/ yang akan melarati embusan angin/ menepis setiap kabut/ aku takkan pergi/ karena aku hanya kata/ muncul diam-diam/ di setiap ingatan. Juga bisa ditemukan pada puisi pendek “Solitude”, berikut lengkap puisinya :

biarlah dirimu mewujud hujan
dan aku mencermati deraimu
di balik etalaseetalase

aku pun menjelma pelangi
setelah ketiadaanmu

SudutBumi, 2006

Pada puisi “Aku Ingin Menunda Waktu” Dian berhadap-hadapan dengan persoalan kerinduan. Memandang pertemuan akan berakhir pada batasan-batasan keumuman, yakni menyisakan kesepian. Puisi itu jelas menyalin peristiwa yang sedang dialami penyairnya sendiri. Sekali ini aku ingin menunda waktu/ menghentikan detik yang terus melaju/ memahat bisu dalam setiap tubuh lugu/ mengentalkan kenangan/ menjelagakan kerinduan. Bila masih belum cukup dengan puisi ini masih banyak puisi yang ditulis dengan nafas kerinduan lainnya seperti puisi “Perjalanan Rindu” dan “Sebuah Rindu”.
Puisi-puisi seperti “Rencana Sepuluh Hari ke Depan” adalah puisi Dian yang kuat akan gagasan pentingnya harapan dalam pandangan penyair tersebut, meskipun selalu akhirnya penyair membuat keputusan dengan bersikap pesimistis. Ruang itu hilang sudah/ tenggelam bersama harapan/ petak kenangan yang tak mungkin hadir kembali. Hampir senada dengan puisi “Di Bawah Jembatan Pasupati” yang melulu mengisyaratkan persoalan kemanusiaan.
Dian termasuk salah satu penyair yang telaten dalam menciptakan pola suatu puisi, hingga tidak salah Acep Zamzam Noor dalam sampul belakang buku ini menilai ia termasuk seorang yang memiliki intensitas terjaga. Dian menulis puisi penuh dengan semangat dan gairah akan kesederhanaan memandang persoalan yang sebenarnya sudah rumit melanda kita. Dian mempunyai pandangan dalam puisinya sesuatu yang rumit itu, baik persoalan sosial, cinta, dan ketuhanan, harus disampaikan dengan cara berbeda, yakni tidak perlu membuat orang untuk kembali kesulitan memahaminya. Tetapi bukan tanpa pertimbangan membiarkan puisi-puisinya tidak memiliki kekuatan atau nilai-nilai puitis.
Kalender Lunar, adalah puisi-puisi yang ditulis dengan berbagai jenis puisi, tetapi tetap menggunakan cara dan daya ungkap yang sama, yaitu kebernasan.
Namun seandainya Dian mau berhati-hati kembali dalam menulis puisi, mungkin ia harus lebih memerhatikan kembali cara ia memosisikan kata kerja dalam penggunaan diksi. Pada puisi “Mengasah Pisau” kata ‘gamit’ di larik : padanganmu terus saja menggamit mata pisau. Pada puisi “Tentang Perempuan yang Ingin Kau Kenal” kata ‘cecar’ pada larik : sementara matamu masih mencecar setiap ujar. Adakalanya setiap penyair menemukan suatu kata, baik lewat pencarian di kamus atau pembacaan lainnya, dan itu harus melewati seleksi yang ketat. Agar puisi tidak terbebani menjadi satu media mengenalkan pembendaharaan kata baru, secara paksa. Atau meskipun pada wilayah ini lebih ‘intim’ ke persoalan gaya bahasa ciri khas penyair, ada baiknya mempertahankan keampuhan atau tidaknya, juga pertimbangan logika bahasa.
Terlepas dari semua itu barangkali, penyair-penyair khususnya penyair yang menulis di usia muda di Jawa Barat, bisa banyak belajar dari proses kepenyairan Dian Hartati lewat Kalender Lunar. Dian Hartati adalah penyair yang banyak menciptakan puisi tidak hanya mengandalkan bakat bawaan, lingkungan di mana ia berada atau bahkan ilham yang seringkali dituduh sebagai awal mula lahirnya puisi. Dian adalah penyair yang mampu belajar dengan sabar, telaten mengukur sesenti demi sesenti peristiwa dan menemukan satu demi satu celah untuk menjadikan semua itu dalam sebuah puisi. Sebab Dian memilih menjadi rajin menyilangi hari-hari proses di kalendernya, yang dipandu oleh bulan. Sekali lagi selamat kepada penyairnya, dan kepada yang lainnya selamat kita bisa menikmati Kalender Lunar.

Pengapresiasi Faisal Syahreza, Penyair kini bergiat di ASAS UPI.

 

Sumber: Radar Tasikmalaya, 3 Juli 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s