Aku Mencintaimu Bersama Kematian yang Datang

aku di sampingmu
menatap wajah yang memutih
bayang-bayang matahari
telah memanjang
dan aku merasakan sunyi

rasakan sentuhan tanganku
kau begitu dingin
aku bergeming
bagaimana esok hari
ketika harus berangkat ke kantor
dapur jadi sunyi
dan aku menjadi hantu
bayang-bayangmu menempel di jalanan
setiap aku melangkah, kau ikut
aku berjongkok kau pun turut

kekasih, hentikan waktu
ajak aku bersama
kamu membiarkan aku sendiri
di kelilingi tetangga
buka matamu
dan aku akan tetap mengenang merah itu
warna yang mengabadi dalam kelopak
warna tangis air mataku

lihatlah, aku ikut berbaring
menyejajarkan tubuh
mengatupkan mata
menyatukan raga
diam dalam sunyi
telinga berdengung
ingin kau menyebut namaku
aku mencintaimu
bersama kematian yang datang
hari ini

kekasih, perahu akhirnya menepi
walau ombak tetap membuas
apakah harus kutelan obat-obat itu
agar pertemuan cepat datang
dan aku tak lagi sendiri

sayang, segalanya telah padam
lampu-lampu itu putus kabelnya
tak ada yang membenahi
tak ada lagi tanganmu
tak ada sentuhan

kudengar detak
jantungku atau hatimu
kurasakan kehadiranmu
hangat di sampingku
berharap kau tetap ada
tanpa pernah berpaling
walau itu sebuah kematian

Bumiwangi, 29 November 2011

Dimuat Jurnal Nasional (19 Feb 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s