Debu

akupun beranjak
mendekati tubuhmu
membelai seluruh yang menempel padamu
menghilangkan segala yang bersisa
tempat hujan menggenangi pagi

berkisahlah
tentang debu jalanan yang likat
lekat berhamburan
sesuatu yang tak juga tersadar
bahwa aku menunggu

perhatikan!

mata-mata bersitatap
mencari luka jalanan tumbang
dan lelah yang begitu kentara

inilah tempat itu
segara yang memuntahkan
pusat matahari menggosongkan segala
jadi debu
dan kamu pun melunas

mendekati tubuhmu
aku hanya diam
melukiskan epitaf-epitaf bisu
tubuhmu campur purnama malam

selubungilah aku
jadikan tubuh ini kepompong
yang meletup
menginginkan kupu-kupu jadi kutukan
sepanjang musim

kuperhatikan matamu
yang selalu merah
kutiup-tiup agar lekas merona wajahmu

kamu adalah debu
tempat aku menitipkan air mata
segala kabar akan dikemas manis
bersama jalinan angin

kamu dan debu
tempat keabadian bertemu

SudutBumi, 2010

Dimuat Majalah Sagang Edisi 160, Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s