Rumah Kesunyian

rabu sore
hari pertama aku datang ke kota ini
matahari begitu terik
dan segelas teh berasa aneh menyambut

kereta api telah berlalu
getarannya masih aku rasa
lebih dari enam jam berada di atasnya
melepaskan sesak di dada

sebuah rumah aku datangi
halaman penuh serakan daun
kaca-kaca berdebu tebal
mirip rumahku di kota asal
hanya saja di sini tak ada ayah dan ibu
tak ada adik-adikku

enam bulan berlalu
daun-daun masih berserakan
debu-debu tebal tak pernah hilang
rumah dengan naungan pohon kismis
rumah dengan riuh kendara

enam bulan berlalu
benih-benih milikku bertumbuhan
bunga bermekaran
menawarkan lanskap kota asalku

setiap pagi aku seduh teh
aromanya menguar dari ruang ke ruang
obat bagi sesak dadaku

2011

Dimuat Jurnal Nasional (19 Februari 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s