Buah Kastanye

Puisi Charl-Pierre Naudé

          “Aku marah begitu sadar aku telah ditipu”
           – Rachel Zadok

 

Seorang penulis angkat bicara
tentang kebahagiaan yang tak disengaja
sebagai seorang anak yang terbelenggu
oleh propaganda dan aib
apartheid –

zaman penuh maksud jahat,
tak perlu diragukan lagi.

Penulis itu bilang ia murka
begitu menyadari
selama ini mereka telah berdusta kepadanya.

Tapi apakah kejahatan
masih memerlukan niat buruk
jika kejujuran pun mampu melakukannya?

Maksud Jahat adalah mahluk yang paling dibenci,
makhluk yang pernah diserbu, dibelenggu, dirantai oleh para pahlawan Perang Salib,
yang menyeretnya melewati jalanan
yang memukulinya dengan tongkat hingga kulitnya mengelupas,
Maksud Jahat adalah virus sirkus basi berambut,
yang selalu ditarik kesana-kemari dengan tali besi dan dipaksa menari,
Setan piaraan keparat, Iblis gembrot
Kuliti buah kastanye itu!
Supaya tumbuh rambut dan keluar darah
dari bijinya yang licin—

ya, darah telah keluar dari tubuhnya …

Niat buruk
yang malang.
Begitulah dirinya.
Memang begitu takdirnya.

Bagaimana halnya dengan makhluk
yang tidak menuruti takdirnya?
Itu lebih mencemaskan.

Tidak usah protes kepada beruang
tentang kuku-kuku kaki mereka yang terlalu panjang.
Ingat, boneka-boneka voodoo menari
bukan karena keinginan sendiri.

Aku senang mengenang
tentang bapakku, yang sedang duduk di bawah lengkung cahaya
yang bersinar dari lampu baca, menerangi
bukunya, yang seakan baru saja dicuci dengan larutan alkali,
putih seperti lobak yang baru saja dicabut dari tanah:
“Treblinka, Auschwitz, jangan pernah
terjadi lagi,” gumamnya, di pojok itu …

rumah kita cukup untuk seluruh dunia waktu itu
waktu panci presto sayup-sayup bersiul
di dapur.

sementara jutaan manusia mampus satu-satu,
tanpa meninggalkan jasad.

Sepertinya yang diperlukan
untuk memaksa budak-budak berbaris lagi
bagai tengkorak-tengkorak dalam belenggu;
untuk mengirim amplop-amplop mungil yang mengunci semesta yang sekarat,
dan alu yang mampu meremukkan Tuhan seperti sebuah sel,

hanyalah satu hal,
hanya satu, seorang
manusia, yang jujur.

Hari ini,
kita punya cukup banyak orang seperti itu.

(Terjemahan by Duddy Anggawi & Mikael Johani)

Sumber: What’s Poetry Antologi Puisi: Forum Penyair Internasional Indonesia 2012, Hlm. 37-39 (Henk Publica, 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s