Hantu Siang Bolong

Puisi Charl-Pierre Naudé

 

Lagi-lagi ketukan itu.
Gedoran penuh kecemasan.
Ia berlari ke pintu.
Pengemiskah di balik sana?
Tapi tak ada seorang pun di luar.
Hanya mawar di halaman
dan parit irigasi.
Matahari membakar, pas di atas kepala.
Bonggol-bonggol mawar besar merentang ke arahnya.
Seperti segerombol mahkota-mahkota,
Seperti sejuta wajah manusia.
Barangkali ini salah panas matahari.
Kesunyian sendiri selalu bergerak.
Jauh di atas kota Karoo
Pesawat jet menembus langit.
Jangkrik bernyanyi.
Tak ada yang bergerak.
Satu-satunya tanda kehidupan adalah tiang lampu yang kabur,
Selain mawar-mawar tadi dan wajah-wajah mereka yang berseri:
Mawar yang satu itu seperti dirinya di ulang tahunnya yang ketigapuluh,
Yang satu itu lagi seperti dirinya waktu beranjak remaja,
Yang masih kuncup itu, seperti dirinya waktu masih berumur tujuh tahun.
Satu lagi yang di sana, mirip pipi jambon ibunya.
Atau pipi Rosy, tetangga masa kecilnya.
Mawar-mawar itu berguguran.
Seperti rambut uban yang muncul pertama kali.
Ia tutup pintu.
Berusaha tenang.
Tapi lagi-lagi …
Bunyi ketukan.
Apakah hanya di dalam kepalanya?
Namun bukankah isyarat
dan pertanda memang hanya ada di dalam kepala?
Kehidupan ini akan berakhir seperti seonggok tangkai bunga.

(Terjemahan Duddy Anggawi & Mikael Johani)

Sumber: What’s Poetry Antologi Puisi: Forum Penyair Internasional Indonesia 2012, Hlm. 33 (Henk Publica, 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s