Setahun Lebih Setelah Kalender Lunar Terbit

Setahun Lebih Setelah Kalender Lunar Terbit

 

 

Setelah setahun lebih Kalender Lunar terbit, setelah  banyak pertanyaan masuk ke e-mail dan massage inbox facebook.com, setelah lama saya tidak menulis perihal proses kreatif.

 

 

-1-

Siang itu saya dijemput Wa Ode Wulan Ratna di terminal Pulo Gadung. Lagi-lagi merepotkannya setiap datang ke Jakarta.

Kurang lebih satu jam kemudian sampai di Penerbit Dian Rakyat. Seseorang yang akan saya temui, sudah menelpon dan SMS beberapa kali ketika saya masih dalam perjalanan.

Hari Sabtu yang sudah saya rencanakan. Libur kantor dan saya segera menuju Jakarta. Empat hari sebelumnya saya ditelepon untuk kepastian datang ke penerbit. Seseorang di seberang telepon bilang, naskah puisi Kalender Lunar lolos terbit. Saya diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan karya secara menyeluruh.

WoW! Telepon yang membuat saya senang di tengah ganasnya pekerjaan yang menggulung. Tanpa berpikir panjang saya memastikan kedatangan. Setelah telepon ditutup, rumitlah pikiran saya. J-a-k-a-r-t-a. Walaupun cuma dua-empat jam perjalanan, saya harus mengatur strategi. Kendaraan yang nyaman, kepastian alamat tuju, dan lain sebagainya.

Setahun bahkan tiga tahun sebelum telepon membahagiakan itu menyapa, saya mengirimkan naskah kumpulan puisi ke berbagai penerbit. Mencetak semua puisi yang telah dipilih penjaga gawang pertama: saya sendiri, Wida Waridah, dan Yopi Setia Umbara.

Lima ratus lebih puisi saya kumpulkan. Puisi yang ditulis dari tahun 2003 sampai tahun 2008, puisi dengan beragam tema, puisi yang semuanya pernah dimuat di koran, majalah, dan kumpulan antologi puisi bersama. Puisi-puisi itu saya sekat dalam kotak-kotak bernama tema. Selesai mengarsipkan, saya mengirimkan kotak-kotak puisi itu kepada Wida dan  Yopi.

Mengharap dua pembaca awal, menghapuskan egoisme saya dalam memilih puisi. Mereka __Wida dan Yopi__ adalah suara-suara muda yang dekat dengan saya dan sedikitnya tahu proses saya menulis.

Wida Waridah yang dikenal __sebelum menikah__ dengan nama Wizard Al Gifary atau Sireum Hideung adalah senoir saya di kampus Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Bahasa dan sastra Indonesia. Dia sering mengomentari puisi-puisi saya, bahkan lebih dari itu. Wida selalu menagih puisi, pada awal saya berlatih menulis puisi. Seolah tak bosan, setiap saya berkunjung ke Wabule (Warung Buku Lesehan), dia sudah bersiap dengan pedang di tangan.

Yopi Setia Umbara, yang tak lain adalah adik kelas saya dan sama-sama bergabung dalam komunitas Arena Studi Apresiasi Sastra, mau saja ketika saya tawari menjadi pembaca pertama. Kami bertemu di sebuah biboskop di kawasan Braga. Kami nonton bersama atau tidak, ya? Saya lupa. Dia seorang penyair juga, tukang buat esai sastra juga, tapi saya belum pernah membaca cerpennya. Kata Fina Sato, sih, akhir-akhir ini dia sedang menulis novel.

Setelah Wida dan Yopi menentukan puisi, lagi-lagi saya perlu dan harus membaca ulang. Menyisihkan puisi dari yang terpilih. Banyak puisi yang ingin saya ikutsertakan dalam sebuah kumpulan tunggal, apalagi jika puisi tersebut menyeret saya dalam sebuah tragedi percintaan, sejarah, bahkan memenangkan sebuah lomba penulisan puisi.

Kurang lebih seratus puisi terpilih. Saya tetap membagi-baginya dalam kotak yang berbeda-beda __subbab. Membuat beberapa bundel dan mulai mencari penerbit yang mau menerbitkan kumpulan puisi. Dengan keyakinan, puisi-puisi saya akan berjodoh dengan penerbit. Ingin rasanya punya buku tanpa mengeluarkan modal. Ingin rasanya buku-buku tersebar ke seluruh Indonesia. Ingin rasanya memandang buku saya di rak-rak toko buku.

Mimpi atau lebih tepatnya keinginan yang sudah berasap di ubun-ubun. Dengan kesabaran dan ketelitian saya menyapa banyak penerbit yang menerbitkan buku puisi.

Bersabar, karena saya banyak mendengar: menerbitkan buku puisi adalah proyek gagal. Bersabar, karena banyak orang yang membukukan puisi dengan uang sendiri dan hanya beredar di lingkaran kawan pertemanan itu. Bersabar, karena saya meyakini puisi-puisi saya akan menemukan jodohnya. Bukan tak percaya pada kemampuan penerbit indie dalam mengelola buku, bukan karena saya pelit mengeluarkan uang untuk buku sendiri. Bukan karena itu. Suatu saat, mungkin saya tertarik dengan penerbitan sistem self publishing alias POD.

Niat besar dalam hati, untuk pertama kalinya saya ingin membuktikan ada penerbit tertarik dengan puisi dan karenanya saya sabar menanti.

Ketelitian pun saya garis bawahi. Sepanjang 2008-2009 saya mengirim naskah dan mencoba peruntungan, sepanjang itu saya membongkar isi naskah. Ketika ditolak beberapa penerbit, saya kembali me-review, apa yang salah dengan isi naskah. Saya bandingkan dengan banyak buku yang sudah terbit. Saya pelajari tema, isi, bahkan kemasan buku. Jumlah puisi dalam naskah yang dikirimkan dari satu penerbit ke penerbit lain pun berbeda.

Memasuki tahun 2009, saya menambahkan puisi-puisi baru dalam naskah yang saya susun. Benar-benar bongkar pasang, berganti judul naskah, berganti komposisi. Semua saya tekuni dengan teliti. Khawatir  ikatan emosional antara saya dan puisi hilang atau malah lebih dari itu. Pasalnya, saya menjadi penjaga gawang utama. Menulis dan memilih adalah sesuatu yang berbeda. Sebenarnya saya tak ingin mencampuradukkan keduanya, tetapi saya harus melakukannya. Keinginan hati lebih kuat dan terpaksa dilakoni. Sekali lagi terpaksa. Semua orang seakan sibuk dengan kegiatan masing-masing dan saya tak bisa menunggu lebih lama.

Karenanya jangan tanya soal, “Sudah kirim ke penerbit mana saja?”, “Judul naskah sebelumnya apa saja?” dan pertanyaan lain seputaran itu. Saya lupa dan malas mengingat saking banyaknya perombakan.

***

Di depan seorang manager dan seorang editor sastra penerbit Dian Rakyat (Jakarta), saya memaparkan naskah kumpulan puisi Kalender Lunar. Menceritakan proses kreatif menulis puisi selama beberapa tahun yang telah saya lakoni. Mengisahkan bagaimana puisi-puisi saya mampir di media massa seperti koran dan majalah. Beberapa puisi yang memenangi penghargaan pun sempat diadili.

Bagi saya menulis puisi bukan hanya sekadar menulis. Bukan hanya sekadar memindahkan peristiwa yang pernah saya jalani ke atas kertas atau layar monitor. Menulis puisi lebih dari sekadar memaknai arti kehidupan. Lebih dalam dari luka-luka yang pernah saya dapatkan di sekujur tubuh ketika berpetualang di rimba raya. Puisi pun menumbuhkan jiwa lain di hati saya. Tak ada yang sia-sia dari puisi, meski tanpa judul. Tak ada yang sia-sia dari puisi, meski saya tak dapat menuliskannya lagi.

Puas berkisah tentang puisi bersama dua orang dari penerbit, tibalah saya meyakinkan mereka, bahwa buku saya kelak akan menemui pembaca dengan jalan yang istimewa. Saya pernah bergabung dalam beberapa komunitas, saya memiliki jaringan pertemanan yang luas, saya akan ikut mengenalkan Kalender Lunar kepada banyak penyuka puisi, kelak saat kelahiran tiba. Tetapi, bukan itu inti penerbitan puisi. Kalender Lunar akan menemui takdirnya sendiri. Melalui jalan istimewa yang saya yakini.

Kalender Lunar cerminan perjalanan satu windu saya mengenal, menulis, dan menanti puisi. Waktu yang tidak singkat, di dalamnya pasti banyak kisah yang mungkin hanya dapat saya arifi sendiri. Dari penandatangan kontrak sampai penerbitan buku, saya menunggu hampir satu tahun. Lagi-lagi, jalan panjang puisi saya lewati dengan berbesar hati. Tak ada yang instan dalam perjalanan puisi saya. Tak ada yang tiba-tiba muncul, begitu pun pemilihan judul yang jatuh pada puisi “Kalender Lunar”.

 

Kalender Lunar

 

 

 

mencermati bulan

gerak putar yang tak pernah diduga

tibatiba purnama

 

kau selalu bercerita

tentang malam dan serigala

manusia dan petaka

sesuatu yang bernama kala

 

di setiap bentukan bulan

kau memandang langit mahabintang

tibatiba gerhana

 

 

SudutBumi, 7 Agustus 2009

Puisi terus bergejolak dalam hati dan kehidupan saya. Menemui orang-orang yang mau bersentuhan dengan Kalender Lunar. Saya pun memilih di antara banyak nama. Acep Zamzam Noor, Ahmad Tohari, Wawan Sofwan. Sayangnya nama ketiga, tak dapat memenuhi keinginan saya untuk memberikan apresiasi sederhana.

Saya menyukai puisi, prosa, dan teater . Genre sastra yang sudah menjadi makanan saya sehari-hari saat duduk di bangku kuliah. Ing in rasanya sosok-sosok besar itu  bersinggungan dengan Kalender Lunar. Penghargaan tak ternilai saya berikan kepada mereka, dan Nenden Lilis A. Teringat di ruang-ruang kelas, “A itu kepanjangan dari ah, cantiknya.” Tawa pun memenuhi ruangan. Saya tak banyak diajari Bu Nenden, namun saya lebih intens dengan karya-karyanya.

Satu tahun lebih Kalender Lunar terbit. Sesekali saya mengintipnya di rak-rak toko buku. Maret 2011 telah berlalu, jiwa Kalender Lunar akan selalu lahir dan terus lahir menjelma puisi lain.

Ruang Ungsi 2, 18 Juni 2012

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s