Keluarga Spora

tiba-tiba aku berada di hamparan hijau rumput
angin jadi musik paling ritmis
di belakang sana gerbang bumi hampir tertutup
portal itu menguarkan kenangan
aku menatapi lamat-lamat
bingung beranjak

sebuah ayunan bergerak sendiri
kuning serupa matahari pagi
aku tersenyum merasakan kehampaan
inilah kesepian
kematian yang hampir datang dan aku masih ragu
ayunan itu terus berderit
seolah mengajak
di punggung tas merah ringan kubawa
di dalamnya ada beragam peta
kompas dan sebotol air
aku haus tapi tak berani membuka tas

tiba-tiba langit berubah warna
ungu dan oranye
berubah lagi jadi abu-abu
sungguh aku tak pernah suka warna pelangi
tak pernah suka mendengar kata-kata suami

aku berjalan ke arah pohon kehidupan
memilih bersamamu atau tetap dalam mimpi

 

 

Ruang Ungsi 2, 2012

 

 

Dimuat Jawa Pos, 7 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s