Kejadian 22 Oktober

-di halaman puskesmas-
dulu, aku memiliki pandangan mereka
orang-orang duduk dan melihat yang datang
seorang laki-laki menggunakan becak
kuyu tak bergerak
di sebelahnya seorang berkepala botak menahan tubuh

becak sampai di pintu ruang dokter
melewati orang-orang yang sedari tadi memerhatikan

ini bukan suatu tontonan
tapi, mereka tidak tahu apa-apa
hanya memandang kemudian berbisik

-di ruang dokter-
orang-orang berpakaian hijau-hijau datang
membawa selembar kertas kosong
nama si penumpang becak dipanggil
suaraku meloncat
memberi tahu si pemilik nama siap diperiksa

aku mengikuti langkah dokter
diperhatikan banyak mata
beruntunglah wajahku sudah tak ada
ngobrol dengan dokter
dan memaksakan jangan memberi obat

tubuh temanku hanya tinggal rangka
bagian-bagian tulangnya tersusun dari racikan kimia
jangan lagi beri obat
aku bingung hendak menyusunnya di mana

-tamu pertama-
pria berkumis itu tidak sampai menginjak pagar rumah
dari jalan dia meminta ktp dan amplop putih
motornya langsung melaju

jalanan begitu ramai
aku melepas dua tamu
seorang tetangga sempat bertanya
aku hanya tersenyum tak mau lagi bicara

-tamu kedua-
si pemilik rumah datang
dia berbaju loreng hijau
tak membuka sepatu tebal
aku sempat kaget sekaligus memaklumi
tali sepatunya berjajar-jajar bersilangan

ruang tamu jadi kotor
ada tapak sepatu
debu yang seharusnya tak datang ke rumah ini

-tamu ketiga-
tiga orang berpakaian hijau datang
melepas sepatu dan bersalaman
yang lelaki langsung masuk kamar
sisanya kutemani di ruang tamu

masih ada jejak sepatu
belum sempat kusapu

mereka cukup lama di rumah ini
sisa kontraknya tinggal dua bulan
aku harus bicara apa?

-tamu keempat-
pria berkumis itu datang lagi
kali ini bersama dua perempuan
lagi-lagi berpakaian hijau

dulu, aku menganggap mereka semua hansip
kini tidak lagi

mereka menanyakan perabot rumah
televisi, air sumur
melihat apakah ada listrik di rumah kami
lantai yang bukan keramik
dan kepemilikan motor

bukan itu saja,
mereka telah menyimpulkan kami sebagai keluarga miskin
yang hanya makan karbohidrat dua hari sekali

-kabar buruk-

-di ruang tamu-
bersama paman google aku menjelajah
menembus rimba-rimba
melewati beragam berita

aku menahan tangis
tapi tak pernah mampu

aku menahan gelisah
benar-benar tak bisa

– ruang tidur-
memandangmu
seolah dua kayu keras menyangga bumi
begitu berat tak mampu melawan gravitasi

duduk di sebelahmu
apakah kita mampu bertahan?
oksigen yang kita hirup sama
makanan pun serupa
Bumiwangi, 23 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s