Mesin Uang

kau bilang aku mesin uang
setiap hari bekerja dan bekerja
malam berubah siang
dan kita tak lagi bercinta

kau masih ingat
roti gandum yang dimakan setiap hari
serel bahkan susu yang kita pesan dari petani
di atas gunung itu
dibayar dengan uang
kau masih ingat
aku harus membayar jasa penatu
untuk baju-bajumu yang bau darah
bau amis dan bau kencing

oh, kata-kata memenuhi rumah ini
ketika suara mesin tik jadi lagu hambar
dan tak lagi mendamaikan hari-hari
di sebuah ladang pertanian
aku tetap harus berpikir
tentang uang

angin tak ada
udara dingin dan kering
hasratmu tak puas dan selalu
menyanyi tentang lagu cinta

apakah kau benar-benar masih punya cinta?
ingatanmu mulai pudar
dan kau minta makan setiap hari

Ruang Ungsi 2, 2012

 

Dimuat Riau Pos, 3 Maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s