Sampur

malam telah purnama
jalanan remang
hanya bulan mengawasi langkah
sunyi
tak ada gending
suara kemarau merajai

melintasi waktu
aku tak memahami arti reinkarnasi
perjalanan ini sedikit menyesakkan

***
suara kaset memanggil
beberapa orang melangkah
seirama
lapangan asing di sebelah rumah miring
siapakah yang sedang menari
tawanya begitu membuat iri

laki-laki setengah mabuk
bermata tertutup
menarik sampur
ngutit bumi ngutit lintang
menjelajah malam

***
para dhanyang tiba-tiba menarikku
mengantar ke gerbang desa

ratusan tahun berlalu
tiba-tiba aku tahu arti reinkarnasi

***
kulit mengencang
mata liar dan bibir banal
aku jatuh cinta pada diri sendiri
tak salah bukan?
srensen mengubahku jadi putri
turun langsung dari langit
tanpa kereta kencana

tamu-tamu berdatangan
suaraku berhasil memanggil mereka
podo nonton
pudak sempal ring lelurung (1)

di antara suara kethuk, kendang, gong
aku melihat sekeliling
aroma pandan
mistis memagari

deleg duwur deleg manthuk
juragan sapi tersenyum memikat
tangannya baru saja merogoh saku
gusti, aku takkan membagi tubuh
ini milikku

***
beberapa hari lalu ritual meras selesai kujalani
jenang merah, santan, dan tumpeng syarat mutlak
aku telah jadi gandrung
menari tanpa restu ibu
berkeliling kampung dan hutan-hutan
ditanggap pejabat sampai juragan

selesai ritual aku didatangi seseorang
kamar bau menyan
dia berkata
aku keturunannya
menari darahku
menyanyi kesukaanku
katanya
aku harus memakai celana besi
mengunci
dan memastikan jadi perawan
seumur hidup

***
beginilah caraku mencintai diri
omprog gemerlap hio
aromanya memabukkan
pemaju mendekat
geleng kepala
senyumku bengis
mengiris malam

sampur diayun
pemain kluncing melempar lawakan
langkahnya mengikuti gerak
gedhog menawarkan aku

***
lelaki berkumis bertanya nama
tentu saja dia orang baru
gerakannya kaku memandang oncer
aku mendelik
meninggalkan pentas menunggu gending berikutnya

***
sampur dilempar
malam menjadi pagi
lapangan umpama embun segar
aroma bir aroma birahi
duduk khusyuk
memandang langit
ocehan para penggila

ruwat tubuh
rasa perawan masih lekat
sampur mengikat napas

***
berjalan menunggu penjemputan
para dhanyang tiba-tiba menarikku
melesat
meninggalkan pagi dan kepul muslihat

 
Banyuwangi, 2012

 
KETERANGAN
(1) lirik “Podho Nonton” dinyanyikan saat pertunjukan gandrung dimulai

sampur: selendang
ngutit bumi: menyenggol payudara
ngutit lintang: menyenggol kemaluan
dhanyang: roh yang menjaga dan mengawasi sekelompok masyarakat
deleg duwur: gerakan kepala dan leher bagian atas ke arah kiri dan ke kanan
deleg manthuk: gerakan kepala mengangguk
omprog: mahkota
kluncing: triangle
gedhog: orang yang bertugas membagi giliran menari bersama gandrung
oncer: potongan kain ditempatkan di sekeliling pinggang

 

Puisi “Sampur” karya Dian Hartati dimuat Jawa Pos (11 Mei 2014).

japos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s