Kaki-kaki Maribaya

ini hutan lumut
dingin dan tikungan menjadi tipuan

tidak ada kekasih
angin telah menjadikannya tinggal nama

cemara berjajar
buah-buahnya menjadi alat pelempar
bernama cinta

suara air terjun hilang
setapak penghubung tak ada
sebab hujan setiap pejalan mati rasa

akar-akar menjadi langit
kaliandra memagut kepak burung
atau sebaliknya

rapatkan jaket dan sweter
agar suara langit yang meraung dapat diredam
ia memanggil namaku yang hampir tersesat

kaki-kaki maribaya
menjelma raksasa terpasung
tanjakan melumpuhkan daya
melepas rasa khawatir

ada teriakan
terpantul di antara warung-warung
pertigaan dan rumpun bambu

aku hendak pulang
tapi, pagar besi menyuburkan pendatang

muslihat di tepi hutan
di bawah kucuran matahari
sebenarnya tak ada petualang
hanya suara-suara para khianat

 
SudutBumi, 2014

 

 

Puisi ini dipublikasikan pertama kali di harian Media Indonesia, 22 Juni 2014

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s