Perempuan Berpayung Hujan

#satu
di gerbang ia datang
menyapa dan mengajak menepi

aku sedang tidak berduka, hujan
hatiku berbunga sebab berhasil melipat langit

lihat matahari begitu cerah
kamu datang dan memaksa pagi jadi murung
#dua
setiap berjalan ke rumah itu
diam-diam ia mengikuti

langit warna pastel dan hujan kenangan
menghitamkan mata

aku si pemungut kata-kata
mengarsipkan puisi dalam
kitab paling pualam

#tiga
di bawah temaram lampu jalanan
mozaik warna rindu mengelu

aku mengundangnya
agar doa sampai ke langit
dan semesta mengabulkan pinta

 
SudutBumi, 2014

 
Puisi ini dipublikasikan pertama kali di harian Media Indonesia, 22 Juni 2014

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s