Pranata

[dukamu, p——–]

 

tentu saja aku ingin mencintaimu
tapi, bersama redup matahari
aku melangkah mundur
menjauh dari hatimu
berjalan seorang diri bersama rahim yang terisi
ia tidak pernah memiliki kesalahan

tiba-tiba, aku merasa tertipu
tabiatmu yang ambigu
selalu membuat resah
puisi-puisi yang tersaji setiap pagi
hanya membawa luka

pohon-pohon di halaman
telah menghilangkan bayangan
dan bulan ada di atasnya
mencermati melalui sulur-sulur
semuanya fatamorgana

aku memilih sepi
menghunus kata-kata
agar rahimku selamat

dalam kesendirian
aku membayangkan kamu
kita pernah satu tubuh
dalam lingkaran api
keringat menggantikan airmata
dan suaramu begitu ingin kuhindari

kamu muncul
bersama bunga-bunga di tangan
sementara aku,
mengelus perut yang semakin menggembung
sambil melingkari kalender
bersuara takut-takut

aku tak berani memandang apapun
tanganmu yang kekar itu telah melukai jiwa
sayang, kamu tidak pernah mengerti
atau pura-pura tak merasakan

tentu saja aku ingin mencintaimu
sebab kita akan menjadi satu nama
melewati lorong gelap
memperbaiki segala kesalahan
menumbuhkan jiwa agar tak kerdil

 

 
SudutBumi, 2014

 

 

Puisi ini dipublikasikan pertama kali di harian Media Indonesia, 22 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s