Jeram Luka

kehilangan bisa menimbulkan air mata
barangkali ya barangkali juga tidak
sebab ada kepergian yang dinantikan
serupa matahari dan gelap beriringan

semesta kini enggan berpihak kepadanya
doa-doa dilarung menjadi jeram luka
debar juga rasa khawatir pada penghujan
kapan musim berganti melupa pelukan

teruslah berjalan mendekati muara rasa
hirup geletar perut bumi yang tengadah
dengung ini muncul dalam bawah tanah
mal-mal bagai jamur cantik bertumbuhan

adakah gelisah hadir dalam sanubari tuan
pakaian necis melupakan sekeliling ruang
langkah terburu berbelok dari rumah ibadah
padahal panggilan telah berlalu lebih lama

riuh terdengar di balik ruang-ruang kaca
musik mengalun membawa kabar gelisah
puan-puan belum juga datang dari bandara
berita televisi mengabarkan keterlambatan

detik kesekian terdengar goncangan
beresonansi dari arah serambi depan
tangis mendidihkan panorama khayal
inilah jawaban dari segala kerumitan

 

Catatan:

Katanya puisi ini menjadi salah satu pemenang Hari-Hari Sastra. Katanya salah satunya jurinya Acep Zamzam Noor. Dan itu memang katanya, karena sampai hari ini saya tidak mendapat konfirmasi resmi dari pihak panitia. Semoga jadi pembelajaran bagi saya, panitia Hari-Hari Sastra, dan tidak terulang mengingat event ini merupakan acara tahunan sebuah kampus.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s