Mata Pantai

pantai-pantai begitu lirih
pertama kali berkenalan, dia diam
bahagia sendiri dengan gerak ikan-ikan
sibuk bersama kawanan angin
tak mengacuhkan pendatang

pantai-pantai begitu sunyi
hitam menghampar biru mengambang
kali kedua bertemu, dia begitu angkuh
kami memang tak saling kenal
tapi, mengapa aku selalu rindu?

pantai-pantai menjerat mata
selalu memanggil untuk datang kembali
di antara terik dan teriakan matahari
berlarian memecah gerak air

pantai-pantai bergumam bisik
dia menyukai seseorang yang datang
dengan kaki telanjang
Ditayangkan di blog ini untuk kepentingan diskusi bersama Klub Baca Bandung pada 15 Januari 2017.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s