Spekulasi Pengalaman Pribadi dalam Tiga Puisi Dian Hartati

Spekulasi Pengalaman Pribadi dalam Tiga Puisi Dian Hartati

Karya Jubaedah*

 

Puisi merupakan untaian kata penuh makna. Memahami puisi tidak cukup dengan sekali membaca karena setiap diksi dari baitnya mengandung simbol tertentu yang perlu dipahami. Dengan cara menikmati puisi, pembaca akan menemukan berbagai hal seperti merasakan pertualangan penyair, gejolak batin dan emosional, spiritual, tentang kehidupan dan segala persoalannya. Puisi yang dituangkan penyair kemungkinan adalah kisah imajinatif atau bisa saja kisah nyata yang dialami secara langsung.

Kumpulan puisi Upacara Bakar Rambut karya Dian Hartati merupakan kumpulan puisi yang menjadi misteri karena antara pengalaman imajinatif dan kenyataan penyair sulit dibedakan. Para pembaca yang telah menamatkan kumpulan puisi ini akan berspekulasi bahwa puisi-puisi di dalamnya merupakan perjalanan hidup sekaligus pengalaman pribadi Sang Penyair. Spekulasi ini dibenarkan Dian Hartati melalui pengantar penulis. Penyair menyatakan bahwa tiga puluh puisi dalam Upacara Bakar Rambut merupakan simbol waktu memasuki usia kepala tiga. Penyair juga menyampaikan bahwa kumpulan puisi mewakili tiga tahap kehidupan yang pernah dilalui, yaitu: kelahiran, pernikahan, dan kepergian.

Perkenalan awal dengan seorang penyair tidak hanya dilakukan lewat pertemuan nyata, tetapi dapat juga melalui karya-karya yang dihasilkan. Kedekatan dengan penyair akan terasa saat membaca larik-larik, bait, dan halaman demi halaman yang berisi petualangan kehidupan penyair. Pertemanan terjalin saat seseorang berani bercerita tentang perasaan yang dialami kepada orang lain. Hal itulah yang dilakukan penyair kepada pembaca.

Ada tiga puisi dalam Upacara Bakar Rambut yang menarik perhatian, yaitu “Begitu Aku Berbisik di Telingamu”, “Berjalan di Bawah keranda”, dan “Wangi Bunga yang Mengikuti”. Ketiga puisi tersebut berkorelasi satu dengan lainnya dan membentuk sebuah kisah. Cerita tentang aku lirik yang berjuang dalam pengabdian dan kesetiaan, hingga merasakan kehilangan dan juga kerinduan yang mendalam. Perhatian aku lirik yang begitu besar kepada tokoh lain—saya menyebutnya tokoh kedua—digambarkan dengan kata ganti orang kedua ditandai berulang kali mengucapkan kata mu, kamu, kau pada semua aktivitas. Kerinduan merupakan tema yang tepat untuk ketiga judul puisi tersebut.

Pada puisi “Begitu Aku Berbisik di Telingamu” menggambarkan kerinduan masa-masa dahulu saat tokoh kedua dalam keadaan sehat. Puisi “Berjalan di Bawah keranda” menggambarkan kerinduan yang tak tersampaikan karena seseorang yang dirindukan tidak dapat dijumpai lagi. Kerinduan yang sama pun tergambar pada puisi “Wangi Bunga yang Mengikuti” karena segala aktivitas yang dilakukan aku lirik selalu teringat tokoh kedua. Kerinduan diselimut pengorbanan dan penderitaan menahan duka karena saat rindu tak bisa bertemu hanya bisa mengingat segala kenangan.

Persamaan lain dari ketiga puisi tersebut yaitu terdapat majas personifikasi. Majas personifikasi pada puisi “Begitu Aku Berbisik di Telingamu” terletak pada bait pertama larik tiga dan empat /kau masih saja bertahan di pembaringan berteman dengan hangat tubuh dan batuk/, larik lima sampai larik sembilan sebagai berikut.

/padahal tadi pagi kita telah

melakukan perjalanan panjang

bercerita pada laut yang sedang bergelora

berkisah tentang sakitmu

pada ikan-ikan dan pasir pantai/

 

Puisi “Berjalan di Bawah Keranda” terdapat majas personifikasi yang terletak pada bait pertama larik tiga /dimensi waktu berloncatan/, bait kelima larik dua /dimensi waktu berkejaran/, sedangkan pada puisi “Wangi Bunga yang Mengikuti”, majas personifikasi terdapat pada bait kedua larik tiga sampai lima /di dalam ruang-ruang kenangan aku ditemani semerbak rupa-rupa kembang/.

Jika dilihat dari tipografi ketiga puisi pilihan tersebut secara kebetulan memiliki jumlah bait yang beruntun, puisi pertama berjumlah 4 bait, puisi kedua berjumlah 5 bait, sedangkan puisi ketiga berjumlah 6 bait. Jumlah bait yang bertingkat seperti ini menggambarkan tahapan perjalanan hidup yang semakin sulit.

Puisi “Begitu Aku Berbisik di Telingamu” merupakan klimak dari kehidupan aku lirik saat mendapat ujian rumah tangga. Puisi ini mengidentifikasi adanya hubungan penyair yang mengalami pernikahan. Puisi “Berjalan di Bawah keranda” adalah tahap kehidupan yang membawa penyair mengalami perpisahan dan puisi “Wangi Bunga yang Mengikuti” hasil dari dua peristiwa tersebut membawa perasaan penyair pada kerinduan yang digambarkan aku lirik.

Ketiga puisi tersebut memiliki diksi mudah dipahami, namun dibalik itu terdapat multimakna. Petualangan hidup dalam ketiga puisi membawa pembaca dalam perjalanan hidup yang harus dilalui tahapan demi tahapan dan itu berwujud cobaan. Selebihnya puisi-puisi ini memberi pelajaran tentang kesetiaan, ketabahan, keteguhan, juga keikhlasan.

 

 

*Jubaedah, mahasiswa Semester 6 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Singaperbangsa Karawang. Aktif berkarya di Bengkel Menulis Unsika (Bemsika) dan Rintis Teater.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s